Cara Mengatasi Gangguan Psikologi Pada Persalinan
Dosen Pengampu:Listia dwi febrianti
Kelompok 3 :
Lisani Ariyani ( 16140033 )
Sri Mahatma Kesava
M (
16140036 )
Aprilia Retnosari ( 16140037 )
Chlara Melanie
Triandari ( 16140038 )
Trias Adi
Puspitasari ( 16140041 )
Riska Tri Nopianti ( 16140042 )
Septi Ratnasari ( 16140043 )
Siziz Nahdiatus S ( 16140044 )
Kiki Karmianti ( 16140046 )
Nur Hidayah ( 16140047
)
Novyanti Isra
Mawang (
16140048 )
Maria Mincelina
Kewa (
16140050 )
B.13.1
DIV BIDAN PENDIDIK
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
T.A 2016/2017
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah
Sekarang
disadari bahwa penyakit dan komplikasi obstetrik tidak semata-mata disebabkan
oleh gangguan organik. Beberapa diantaranya ditimbulkan atau diperbuat oleh
gangguan psikologik. Latar belakang timbulnya penyakit dan komplikasi dapat
dijumpai dalam berbagai tingkat ketidakmatangan dalam perkembangan emosional
dan psikoseksual dalam rangka kesanggupan seseorang dalam menyesuaikan diri
dengan situasi tertentu yang sedang dihadapi, dalam hal ini khususnya
kehamilan, persalinan dan nifas. Karena rasa nyeri dalam persalinan sejak zaman
dahulu sudah menjadi pokok pembicaraan diantara wanita, maka banyak calon ibu
menghadapi kehamilan dan kelahiran anaknya dengan perasaan takut dan cemas.
Tidaklah mudah untuk menghilangkan rasa takut yang sudah berakar dalam itu,
akan tetapi dokter dan bidan dapat berbuat banyak dengan membantu para wanita
yang disinggapi perasaan takut dan cemas. Sejak pemeriksaan kehamilan pertama
kali dokter atau bidan harus dengan kesabarannya meyakinkan calon ibu bahwa
kehamilan dan persalinan adalah hal yang normal dan wajar. Dia tidak hanya
harus menimbulkan kepercayaan, akan tetapi harus pula menimbulkan anggapan pada
wanita yang bersangkutan bahwa ia seorang kawan yang ahli dalam bidangnya dan
yang sungguh-sungguh berkeinginan mengurangi rasa nyerinya serta menyelamatkan
ibu dan anak. Perubahan psikologis keseluruhan seorang wanita yang sedang
mengalami persalinan sangat bervariasi, tergantung pada persiapan dan bimbingan
antisipasi yang ia terima selama menghadapi persalinan, dukungan yang diterima
wanita dari pasangannya, orang terdekat lain, keluarga dan pemberi perawat.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah
yang dimaksud dengan Gangguan psikologis pada ibu bersalin ?
1.2.2 Apa
sajakah penyebab Gangguan psikologi pada ibu bersalin ?
1.2.3 apa saja Macam-macam gangguan pada masa persalinan ?
1.2.4 Bagaimana cara pencegahan Gangguan psikologi pada
ibu bersalin ?
1.2.5 Bagaimana penatalaksanaan gangguan psikologi pada ibu bersalin ?
1.2.6 Bagaimana
peran bidan pada gangguan psikologi pada ibu bersalin ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian dari gangguan psikologi pada ibu bersalin.
1.3.2 Untuk mengetahui penyebab dari gangguan psikologi pada ibu bersalin.
1.3.3 untuk mengetahui macam-macam gangguan pada masa persalinan.
1.3.4 untuk
mengetahui cara pencegahan gangguan psikologi pada ibu bersalin.
1.3.5 Untuk mengetahui cara penatalaksanaan gangguan psikologi pada ibu bersalin.
1.3.6 Untuk
mengetahui peran bidan dalam menangani gangguan psikologi pada ibu bersalin.
BAB II
TINJAUAN
TEORI
1.
Persalinan
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang
terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-40 minggu) lahir spontan dengan
presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik
pada ibu maupun pada janin. Kala 1 adalah proses dimulainya dari saat
persalinan mulai sampai pembukaan lengkap (10cm Klinis dapat dinyatakan partus
dimulai bila timbul his dan wanita tersebut mengeluarkan lendir yang bersemu
darah (blood show). Lendir yang bersemu darah ini berasal dari lendir kanalis
servikalis karena serviks mulai membuka atau mendatar. Kanalis servikalis itu
pecah karena pergeseran-pergeseran ketika serviks membuka. Proses membukannya
serviks akibat his dibagi menjadi 2 fase:
Fase laten :
berlangsung selama 8 jam. Pembukaan terjadi sangat lambat sampai mencapai
ukuran diameter 3 cm.
Fase
aktif : dibagi menjadi 3 fase kembali , yakni :
1.
Fase akselerasi. Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm tadi
menjadi 4 cm.
2.
Fase dilatasi maksimal : dalam waktu 2 jam pembukaan
berlangsung sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm.
3.
Fase deselerasi : pembukaan menjadi lambat kembali
dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap.
Fase- fase
tersebut di jumpai pada primigravida. Pada multigravida pun terjadi demikian,
akan tetapi fase laten, fase aktif, dan fase deselerasi terjadi lebih pendek. Sebab-sebab
terjadi persalinan.
Hal yang
menjadi penyebab mulainya persalinan belum diketahui benar , tetapi ada dua
hormon yang mempengaruhi saat hamil :
1)
Meningkatkan sensitivita otot Rahim
Menerima rangsangan dari luar seperti rangsangan oksitosin
, prostaglandin serta rangsangan mekanis
2)
Menurunkan sensitivitas otot Rahim
Menyulitkan penerimaan dari luar seperti rangsangan
oksitosin ,prostaglandin dan mekanis
Menyebabkan
otot rahim dan otot polos relaksasi. Kedua hormon ini harus seimbang untuk
mempertahankan kehamilan.Perubahan keseimbangan kedua hormon tersebut
menyebabkan oksitosin yang dikeluarkanoleh hipofisis anterior dapat menimbulkan
kontraksi
Braxton
Hicks.
Kontraksi Braxton
Hickx akan menjadi kekuatan dominan saat mulainya persalinan. Dan hormon
prostaglandin pada laki-laki juga mempengaruhi persalinan.
1.
Tahapan Persalinan (KALA I , II , III , DAN IV)
Kala I (Kala Pembukaan)
Kala I Persalinan dimulai
sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks, hinggamencapai
pembukaaan lengkap (10cm) Persalinan kala I dibagi menjadi 2 fase , yaitu :
a)
Fase laten, dimana pembukaan serviks berlangsung
lambat dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan
secara bertahap sampai pembukaan 3 cm, berlangsung 7-8 jam.2.
b)
Fase aktif (pembukaan serviks 4-1 cm),
berlangsung selama 6jam.
Mekanisme
pembukaan serviks berbeda antara primigravida dan multigravida. Pada
primigravida ostium uteri internium akan membuka lebih dulu
,sehingga serviks akan mendatar dan menipis ,kemudian ostium internum
sudah sedikit membuka.
Kala II (Kala
pengeluaran bayi)
Kala II Persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10cm)
dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II pada primipara berlangsung selama 2
jam dan multipara 1 jam.
Tanda dan
gejala kala II :
1)
His semakin kuat , dengan interval 2-3menit.
2)
Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya
kontraksi.
3)
Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rektum
dan vagina.
4)
Perinium menonjol.
5)
Vulva , vagina dan sfringter ani terlihat membuka.
6)
Peningkatan pengeluaran lendir dan darah.
Kala III
(Kala Pengeluaran Plasenta)
Kala III
Persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta
dan selaput ketuban.Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi
lahir.
Kala IV
(Pengawasan)
Kala IV
Persalinan dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir dua jam setelah
proses tersebut.Observasi yang harus dilakukan :
1.Tingkat
kesadaran.
2.Pemeriksaan
tanda-tanda vital , Tekanan darah, suhu , nadi dan pernapasan.
3.Kontraksi
uterus
4.Perdarahan
dianggap normal jika jumlahnya tidak melebihi 500 cc.2.1 Pengaruh
Perubahan Psikologis Pada Saat MelahirkanPerubahan Psikologis Ibu saat
Persalinan
Fase Laten :
Pada fase
ini ibu biasanya merasa lega dan bahagia karena masa kehamilannya akan segera
berakhir. Namun pada awal persalinan wanita biasanya gelisah, gugup, cemas
dan khawatir sehubungan dengan rasa tidak nyaman karena kontraksi. Biasanya ia
ingin berbicara, perlu ditemani, tidak tidur, ingin berjalan-jalan dan menciptakan kontak mata. Pada wanita yang dapat menyadari bahwa
proses ini wajar dan alami akan mudah beradaptasi dengan keadaan tersebut
Fase aktif :
Saat
kemajuan persalinan sampai pada waktu kecepatan maksimum rasa khawatir wanita
menjadi meningkat. Kontraksi semakin kuat dan frekuensinya lebih sering
sehingga wanita tidak dapat mengontrolnya. Dalam keadaan ini wanita akan lebih
serius. Wanita tersebut menginginkan seseorang untuk mendampinginya karena dia
merasa takut mampu beradaptasi dengan kontraksinya.Kebutuhan ibu selama
persalinan:
1.
Kebutuhan fisiologis
2.
Kebutuhan rasa aman
3.
Kebutuhan dicintai dan mencintai
4.
Kebutuhan harga diri
5.
Kebutuhan aktualisasi diri
Tanda fisik
persalinan
Idealnya ibu telah mengetahui
tanda-tanda persalinan yang akan dijalaninya. Dengan mengetahui proses itu
setidaknya peran ibu dapat mempersiapkan diri untuk menyambut peristiwa
kehadiran bayi.
2.1
Pengertian Gangguan psikologi pada ibu bersalin
Persalinan
merupakan hal yang paling ditunggu-tunggu oleh para ibu hamil, sebuah waktu
yang menyenangkan namun di sisi lain merupakan hal yang paling mendebarkan.
Persalinan terasa akan menyenangkan karena si kecil yangselama sembilan bulan
bersembunyi di dalam perut anda akan muncul terlahir kedunia. Di sisi lain
persalinan juga menjadi mendebarkan khususnya bagi calon ibu baru, dimana
terbayang proses persalinan yang menyakitkan, mengeluarkan energi yang
begitu banyak, dan sebuah perjuangan yang cukup melelahkan.Gangguan yang
terjadi pada seorang ibu menjelang persalinan, yang bersumber pada rasa takut
& sakit pada fisik yg teramat sangat. Pada ibu hamil banyak terjadi
perubahan , baik fisik maupun psikologis. Begitu juga pada ibu bersalin,
perubahan psikologis pada ibu bersalin wajar terjadi pada setiap orang namun ia
perlu memerlukan bimbingan dari keluarga dan penolong persalinan agar ia dapat
menerima keadaan yang terjadi selama persalinan dan dapat memahaminya sehingga
ia dapat beradaptasi terhadap perubahan yang terjadipada dirinya.Perubahan
psikologis selama persalinan perlu diketahui oleh penolong persalinan dalam
melaksanakan tugasnya sebagai pendamping atau penolong persalinan.Perubahan
psikologis pada kala satu, beberapa keadaan dapat terjdi pada ibu dalam
persalinan, trauma bagi ibu yang pertama kali melahirkan, perubahan-perubahan
yang di maksud adalah:
1.
Perasaan tidak enak.
2.
Takut dan ragu-ragu akan persalinan yang
di hadapi.
3.
Ibu dalam menghadapi persalinan sering memikirkan
antara lain apakahpersalinan berjalan normal.
4.
Menganggap persalinan sebagai cobaan.
5.
Apakah penolong persalinan dapat sabar dan
bijaksana dalam menolongnya.
6.
Apakah bayi normal atau tidak.g. Apakah ia sanggup
merawat bayinya.h. Ibu cemas.
Perlu
diketahui, ketika mengandung bahkan setelah melahirkan terjadi “fluktuasi”
hormonal dalam tubuh. Hal inilah yang antara lain menyebabkan terjadinya
gangguan psikologis pada ibu yang baru melahirkan.
1.
Kurangnya persiapan mental
Yang
dimaksud di sini adalah kondisi psikis atau mental yang kurang dalam menghadapi
berbagai kemungkinan seputar peran ganda merawat bayi, pasangan,dan diri
sendiri. Terutama hal-hal baru dan “luar biasa” yang bakal dialami
setelah melahirkan. Ini tentunya dapat menimbulkan masalah. Penderitaan fisik
dan beban jasmaniah selama berminggu-minggu terakhir masa kehamilan itu menimbulkan
banyak gangguan psikis dan pada akhirnya meregangkan jalinan hubungan ibu dan
anak yang semula tunggal dan harmonis. Maka beban inilah yang menjadi latar
belakang dari impuls-impuls emosional yang diwarnai oleh sikap permusuhan
terhadap bayinya. Lalu ibu tersebut mengharapkan jika bayi yang dikandungnya
untuk segera dikeluarkan dari rahimnya.
2.
Gangguan bounding attachmenT
Pengertian
bounding attachmet/ keterikatan awal/ ikatan batin adalah suatu proses dimana
sebagai hasil dari interaksi terus menerus antara bayi dan orang tua yang
bersifat saling mencintai, memberikan keduanya pemenuhan emosional dan
saling membutuhkan
Bagaimana
cara pencegahan Gangguan psikologi pada ibu bersalin ?
Tugas
penting atau yang paling utama dari seorang wanita dalam proses kelahiran
bayinya, khusus pada periode permulaan (periode mulai melebarnya saluran vagina
dan ujung uterus) ialah sebagai berikut:
1.
Sepenuhnya patuh mengikuti kekuatan-kekuatan naluriah
dari dalam
2.
Memberikan partisipasi sepenuhnya
3.
Dengan kesabaran sanggup menderita segala kesakitan.
Selanjutnya,
jika proses kesakitan pertama-tama menjelang kelahiran itu disertai banyak
ketegangan batin dan rasa cemas atau ketakutan yang berlebihan, atau disertai
kecenderungan yang sangat kuat untuk bertingkah super aktif, dan mau mengatur
sendiri proses persalinan maka:
1.
Proses kelahiran bayi bisa menyimpang dari pola
normal dan spontan
2.
Prosesnya kan sangat terganggu (merupakan
kelahiran yang abnormal).Situasi pada periode kedua berlangsung agak berbeda
sekarang wanita harus berkerja keras menahan kesakitan yang semakin hebat. Dan
tekanan-tekanan dalam perut harus disertai usaha merejan secara
sungguh-sungguh.semua ini dibarengi dengan kontraksi-kontraksi dari dalam,
diperkuat oleh kemamuan sendiri, dan dirangsang oleh dorongan serta sugesti
dari luar yaitu dari bidan,dokter dll maka segenap daya psikis dan fisik wanita
benar-benar dikonsentrasikan pada pengabdian diri untuk melanggenggkan generasi
manusia dengan jalan melahirkan bayinya.Bagaimana penatalaksanaan gangguan
psikologi pada ibu bersalin ? Adapun cara-cara mengatasi masalah
psikologis pada saat persalinan, yaitu:
1.
Kegiatan konseling pada ibu melahirkan.
Adapun
konseling-konselingnya sebagai berikut:
1.
Menjalin hubungan yang mengenakan (rapport) dengan
klien.
2.
Bidan menerima klien apa adanya dan memberikan
dukungan yang positif.
3.
Kehadiran merupakan bentuk tindakan aktif keterampilan
yang meliputi mengatasi semua kekacauan/kebingungan, memberikan perhatian total
kepada klien.
4.
Bidan selalu mendengarkan dan memperhatikan keluhan klien.
5.
Sentuhan bidan terhadap klien akan memberikan rasa
nyaman dan dapat membantu relaksasi.
Misalnya:
ketika kontraksi pasien merasakan kesakitan, bidan memberikan sentuhan pada
daerah pinggang, sehingga klien akan merasa nyaman.
6.
Memberikan informasi tentang kemajuan persalinan
merupakan upaya untuk memberikan rasa percaya diri pada klien bahwa klien dapat
menyelesaikan persalinanya.
7.
Memandu persalinan. Misalnya dengan bidan menganjurkan
klien meneranpasa saat his berlangsung.
8.
Mengadakan kontak fisik dengan klien. Misalnya:
mengelap keringat,mengipasi, memeluk pasien, menggosok klien.
9.
Memberikan pujian kepada klien atas usaha yang
telah dilakukannya. Misalnya: bidan mengatakan: “bagus ibu, pintar
sekali menerannya”.
10.
Memberikan ucapan selamat kepada klien atas kelahiran
anaknya dan mengatakan ikut berbahagia.
11.
Bila diperlukan alternatif pilihan yaitu melahirkan
tanpa rasa sakit dengan metode relaksasi Hypnobrithing.
Hypnobrithing
adalah suatu hipnoterapi yang dilakukan dengan melakukan kontak langsung
dengan alam bawah sadar sehingga mencapai kondisi rileks yang mendalam dan
stabil, kita akan mampu menanamkan suatu program atau konsepbaru yang secara
otomatis akan mempengaruhi kehidupan dan tindakan kita sehari-hari.
1.
Menggunakan media air guna mengurangi rasa sakit,
seperti metode Water Birth
BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1 Contoh
Kasus
Seorang ibu
GIP0A0 datang ke BPS Ny. HJ Esti Azhar dengan keluhan keluar darah bercampur
lendir dan sakit yg luar biasa di pinggangnya . Ibu kelihatan sangat takut
sekali mengetahui itu sehingga ibu cepat-cepat datang ke BPS.Setelah di Periksa
Dalam ternyata pembukaan masih 2 cm sehingga ibu harus menunggu sampai
pembukaan nya lengkap .Karena takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan ,
si Ibu sementara disuruh tinggal. Dan keluarganya mengiyakan. Karena ibu masih
primigravida jadi menunggu pembukaan lengkap membutuhkan waktu yg lama sekali .
Dan ibu baru pertama kali menghadapi persalinan , ibu merasa cemas dan selalu
memanggil manggil bidan dan menanyakan kapan anak saya lahir. Ibu juga menangis
dan sangat takut sekali akan persalinan yang akan ibu hadapi.
ASUHAN
KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN
PADA
NY. “A” UMUR 25 TAHUN G1P0A0AH0
UMUR KEHAMILAN
Di
BPM ORI DIVIA GUNUNG KIDUL
No.Register :
Masuk RS/PKM/BPM tanggal/pukul :
BPM 06 April 2017
Dirawat diruang : Diruang ANC
I.
PENGKAJIAN DATA, Tanggal/ pukul : 06-04-2017 oleh : Bidan
A. Biodata Ibu Suami
1. Nama : Ny “A” Tn “S”
2. Umur : 20 tahun 23 tahun
3. Agama : islam islam
4. Suku/bangsa : Jawa/Indonesia Jawa/Indonesia
5. Pendidikan : SMP SMP
6. Pekerjaan : Wiraswasta Wiraswasta
7. Alamat
: ploso 1, gunung kidul ploso 1,gunung kidul
B. Data
Subjektif
1. Alasan
datang/ dirawat
Ibu mengatakan ingin memeriksakan
kehamilannya
2. Keluhan
Utama
Ibu mengatakan adanya keluar darah dan
bercampur lendir disertai sakit pinggang.
3. Riwayat
Menstruasi
Menarche :
13 tahun Siklus : 28 hari
Lama :
5 hari Teratur : Teratur
Sifat darah : encer Keluhan : Tidak Ada
4. Riwayat
Perkawinan
Status Perkawinan : sah Menikah
ke : Pertama
Lama :
1 tahun Usia Menikah
Pertama : 19 tahun
5. Riwayat
Obstetrik : G1P0A0Ah0
|
Hamil
Ke
|
Persalinan
|
Nifas
|
|
Tanggal
|
Umur
Kehamilan
|
Jenis
Persalinan
|
Penolong
|
Komplikasi
|
JK
|
BB
|
Laktasi
|
Komplikasi
|
|
Hamil ini
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6. Riwayat
Kontrasepsi yang digunakan
|
No.
|
Jenis Kontrasepsi
|
Pasang
|
Lepas
|
|
Tanggal
|
oleh
|
tempat
|
keluhan
|
tanggal
|
oleh
|
tempat
|
alasan
|
|
|
Belum pernah menggunakan kontrasepsi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7. Riwayat
Kehamilan sekarang
a. HPM : 27 – 01 – 2017
b. ANC
pertama umur kehamilan : 1 minggu
c. Kunjungan
ANC
Trimester I
Frekuensi : 1 kali
Keluhan :
Mual
Komplikasi : Tidak Ada
Terapi :
Asam folat, Vit. B6
Trimester II
Frekuensi : - kali
Keluhan :
-
Komplikasi : -
Terapi :
-
Trimester III
Frekuensi : - kali
Keluhan :
-
Komplikasi : -
Terapi :
-
d. Imunisasi
TT : - kali
TT 1 : SD
TT 2 : SD
TT 3 : Caten
TT 4 : -
TT 5 : -
e. Pergerakan
janin selama 24 jam (dalam sehari )
Ibu mengatakan gerakan janin aktif.
8. Riwayat
Kesehatan
a. Penyakit
yang pernah/sedang diderita (menular,menurun dan menahun)
Ibu mengatakan tidak pernah/sedang
menderita penyakit menular (hepatitis,tbc) , menurun ( DM , Hipertensi, asma),
menahun (jantung,ginjal)
b. Penyakit
yang pernah/sedang diderita keluarga (menular,menurun dan menahun)
Ibu
mengatakan keluarga tidak pernah/sedang menderita penyakit menular
(hepatitis,tbc) , menurun ( DM , Hipertensi, asma), menahun (jantung,ginjal)
c. Riwayat
keturunan kembar
Ibu mengatakan tidak memiliki riwayat
keturunan kembar
d. Riwayat
Operasi
Ibu mengatakan tidak memiliki riwayat
operasi
e. Riwayat
alergi obat
Ibu mengatakan tidak memiliki riwayat
alergi obat
9. Pola
pemenuhan kebutuhan
Sebelum hamil selama
hamil
a. Nutrisi
Makan
Frekuensi : 2 x/hari 3
x/hari
Jenis :
nasi,lauk,sayur nasi,lauk,sayur
Porsi :
1 piring 1
piring
Pantangan : tidak ada tidak
ada
Keluhan :
tidak ada tidak
ada
Minum
Frekuensi : 6 x/hari 7
x/hari
Jenis :
air putih,the air
putih,teh
Porsi :
1 gelas 1
gelas
Pantangan : tidak ada tidak
ada
Keluhan :
tidak ada tidak
ada
b. Eliminasi
BAB
Frekuensi : 1 x/hari 1
x/hari
Warna :
khas feses khas
feses
Konsistensi : lembek keras
Keluhan :
tidak ada tidak
ada
BAK
Frekuensi : 3 x/hari 5
x/hari
Warna :
khas urine khas
urine
Konsistensi : cair cair
Keluhan :
tidak ada tidak
ada
c. Istirahat
Tidur siang
Lama :
2 jam/hari 2
jam/hari
Keluhan :
tidak ada tidak
ada
Tidur malam
Lama :
8 jam/hari 7
jam/hari
Keluhan :
tidak ada tidak
ada
d. Personal
Hygiene
Mandi :
2 x/hari 2
x/hari
Ganti pakaian : 2 x/hari 2
x/hari
Gosok gigi : 3 x/hari 3
x/hari
Keramas :
3 x/minggu 3
x/minggu
e. Pola
Seksualitas
Frekuensi : 3 x/minggu 1
x/minggu
Keluhan :
tidak ada tidak
ada
f. Pola
Aktivitas
Ibu mengatakan setiap harinya bekerja
C. Data
Objektif
1. Pemeriksaan
umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Status Emosional : Stabil
Tanda Vital :
Tekanan Darah : 110/80 mmHg Nadi : 80 x/menit
Pernafasan : 22 x/menit Suhu : 360 C
BB :
45 Kg TB : 153 cm
2. Pemeriksaan
Fisik
Kepala : Simetris, tidak ada nyeri tekan,
rambut bersih,
tidak
ketombe
Wajah : Simetris, tidak ada
odem,tidak ada cloasma
gravidarum
Mata : Simetris,sklera
putih,konjungtiva merah muda,
bersih
Hidung :
Bersih, tidak ada polip, pernapasan baik
Mulut :
Bersih, tidak ada stromatitis,tidak ada karang gigi.
Telinga :
Simetris, pendengaran baik, tidak ada serumen
Leher : tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid, limfe dan
vena jugularis
Dada :
tidak ada retraksi dada, tidak ada bunyi whezing
Payudara :
simetris, areola hiperpigmentasi, puting menonjol
Abdomen : tidak ada striae gravidarum, linea
nigra dan bekas
luka Palpasi
Leopold I : TFU 1 jari di bawah Px , tidak melenting, lunak,
Bulat,yaitu bokong
Leopold II : bagian kanan teraba memanjang,keras dan datar.
Dan bagian kiri teraba bagian
kecil-kecil yaitu ekstremitas.
Leopold III : teraba bulat, keras dan melenting yaitu kepala
Leopold IV : sudah masuk panggul atau divergen
Osborn Test : tidak dilakukan
Pemeriksaan Mc Donald
TFU :
27 cm TBJ
: 2480 gram
Auskultasi
Djj :
130 x/menit
Ekstremitas Atas : simetris, tidak ada odem, gerakan aktif
Ekstremitas Bawah : simetris, tidak ada varises, gerakan aktif
Genetalia Luar : tidak ada pembengkakan bartholini
Pemeriksaan Panggul : tidak dilakukan
(bila perlu)
3. Pemeriksaan
penunjang tanggal :
Tidak ada
4. Data
Penunjang
Tidak ada
II.
INTERPRETASI DATA
A. Diagnosa
Kebidanan
Seorang ibu Ny “A” umur 25 tahun G1P0A0Ah0 UK 39+5 minggu janin
tunggal, hidup, intra uteri dengan persalinan kala II.
Data Dasar :
Ds : -
Ibu mengatakan umur 25 tahun
-
Ibu mengatakan ini kehamilan pertama
-
Ibu mengatakan HPHT : 27 - 01- 2017
Do :
Tekanan Darah : 110/80 mmHg Nadi :
80
x/menit
Pernafasan : 22 x/menit Suhu : 360 C
BB :
45 Kg TB :
153 cm
B. Masalah
Ibu cemas menghadapi persalinan
Data dasar :
Ds : ibu mengatakan cemas, kelihatan
sangat takut.
Do : ibu tampak kesakitan
III. IDENTIFIKASI DATA
DAN ANTISIPASI POTENSIAL
Tidak Ada
IV. TINDAKAN
SEGERA
A. Mandiri
Tidak ada
B. Kolaborasi
Tidak ada
C. Merujuk
Tidak ada
V. PERENCANAAN Tanggal : Pukul:
1. Lakukan
pendekatan kepada ibu
2. Berikan
konseling persiapan persalinan
3. Jalin
hubungan antar bidan dengan ibu
VI. PELAKSANAAN Tanggal : Pukul:
1. Melakukan
pendekatan kepada ibu seperti memberikan dukungan dan kepercayaan diri bahwa
ibu akan baik-baik saja saat menghadapi persalinan nantinya
2. Memberikan
konseling persiapan persalinan bahwa keluhan yang ibu rasakan termasuk dalam
tanda-tanda persalinan
3. Menjalin
hubungan antar bidan dengan ibu supaya ibu dapat tenang dan siap dalam
menghadapi persalinan serta mendengarkan keluhan ibu dan apa yang dirasakan ibu
saat ini dan bidan harus memberikan jawaban yang dapat membuat ibu tenang dan
tidak takut dalam menghadapi persalinan.
VII. EVALUASI
Tanggal : Pukul:
1.
Ibu mulai merasa percaya diri bahwa dalam proses
persalinannya akan baik-baik saja
2.
Ibu sudah memahami tentang tanda-tanda persalinan
3.
Ibu sudah merasa tenang dan tidak takut lagi dalam
menghadapi persalinan
BAB III
PEMBAHASAN
2.4
Cara Pencegahan Gangguan Psikologi Pada Ibu Bersalin
Tugas penting atau yang paling utama dari seorang wanita dalam proses
kelahiran bayinya, khusus pada periode permulaan (periode mulai melebarnya
saluran vagina dan ujung uterus) ialah sebagai berikut:
a.
Sepenuhnya patuh mengikuti kekuatan-kekuatan naluriah dari dalam.
b. Memberikan partisipasi sepenuhnya.
c. Dengan kesabaran sanggup menderita segala kesakitan.
Selanjutnya, jika proses kesakitan pertama-tama menjelang kelahiran itu
disertai banyak ketegangan batin dan rasa cemas atau ketakutan yang berlebihan,
atau disertai kecenderungan yang sangat kuat untuk bertingkah super aktif, dan
mau mengatur sendiri proses persalinan maka proses kelahiran bayi bisa
menyimpang dari pola normal dan spontan, serta prosesnya akan sangat terganggu
(merupakan kelahiran yang abnormal).
2.5
Komunikasi Teurapetik
a.
Pengertian komunikasi teurapetik
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan
klien (Depkes RI, 1997). Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komunikasi
terapeutik adalah proses yang digunakan oleh perawat memakai pendekatan yang
direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan pada klien.
Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak
saling memberikan pengertian antara perawat dengan klien. Persoalan yang
mendasar dari komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat
dan klien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara
perawat dan klien, perawat membantu dan klien menerima bantuan.
Menurut Stuart dan Sundeen (dalam Hamid, 1996), tujuan hubungan terapeutik
diarahkan pada pertumbuhan klien meliputi:
1.
Realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan penghormatan terhadap diri.
2.
Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri.
3.
Kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim dan saling
tergantung dengan kapasitas untuk mencintai dan dicintai.
4. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai
tujuan personal yang realistik.
b.
Tujuan komunikasi terapeutik
Tujuan dari komunikasi
terapeutik, yaitu:
1.
Membantu pasien memperjelas serta mengurangi beban perasaan dan pikiran
selamam proses persalinan.
2.
Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien.
3. Membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri untuk
kesejahteraan ibu dan proses persalinan agar dapat berjalan dengan
semestinya.
c.
Pendekatan komunikasi terapeutik.
Pendekatan komunikasi
terapeutik, seperti:
1.
Menjalin hubungan yang mengenakkan (rapport) dengan klien
Bidan menerima klien
apa adanya dan memberikan dorongan verbal yang positif.
2.
Kehadiran
Kehadiran merupakan
bentuk tindakan aktif ketrampilan yang meliputi mengayasi semua
kekacauan/kebingungan, memberikan perhatian total pada klien. Bila memungkinkan
anjurkan pendamping untuk mengambil peran aktif dalam asuhan.
3.
Mendengarkan
Bidan selalu
mendengarkan dan memperhatikan keluhan klien.
4.
Sentuhan dalam pendampinganklien yang bersalin.
Komunikasi non verbal
kadang-kadang lebih bernilai dari pada kata-kata. Sentuhan bidan terhadap klien
akan memberi rasa nyaman dan dapat membantu relaksasi.
5.
Memberi informasi tentang kemajuan persalinan.
Hal ini diupayakan
untuk memberi rasa percaya diri bahwa klien dapat menyelesaikan persalinan.
Pemahaman dapat mengerangi kecemasan dan dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi
apa yang akan terjadi.
6.
Informasi yang diberikan diulang beberapa kali dan jika mungkin berikan
secara tertulis
Memandu persalinan
dengan memandu intruksi khusus tentang bernafas, berelaksasi dan posisi postur
tubuh. Misalnya : bidan meminta klien ketika ada his untuk meneran. Ketika his
menghilang, bidan mengatakan pada ibu untuk bernafas pajang dan rileks.
7.
Mengadakan kontak fisik dengan klien
Kontak fisik dapat
dilakukan dengan menggosok punggung, memeluk dan menyeka keringat serta
membersihkan wajah klien.
8.
Memberikan pujian
Pujian diberikan pada
klien atas usaha yang telah dilakukannya.
9.
Memberikan ucapan selamat pada klien atas kelahiran
putranya dan menyatakan ikut berbahagia
Komunikasi terapeutik
pada ibu dengan gangguan psikologi saat persalinan dilaksanakan oleh bidan
dengan sikap sebagai seorang tua dewasa, karena suatu ketika bidan harus
memberikan perimbangan.
d.
Sikap komunikasi terapeutik
Lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat
memfasilitasi komunikasi yang terapeutik menurut Egan, yaitu:
1.
Berhadapan. Artinya dari posisi ini adalah “Saya siap untuk anda.
2.
Mempertahankan kontak mata. Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai
klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
3.
Membungkuk ke arah klien. Posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan
atau mendengar sesuatu.
4.
Mempertahankan sikap terbuka, tidak melipat kaki atau tangan menunjukkan
keterbukaan untuk berkomunikasi.
5. Tetap
rileks. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi
dalam memberi respon kepada klien.
BAB IV
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Gangguan psikologi ibu
pada masa persalinan merupakan hal yang wajar terjadi pada setiap ibumenjelang
persalinannya, namun ibu bersalin memerlukan bimbingan dari keluarga dan
penolong persalinan agar ia dapat menerima keadaan yang terjadi selama
persalinan dan dapat memahaminya sehingga ia dapat beradaptasi terhadap perubahan
yang terjadi pada dirinya. Perubahan psikologis selama persalinan perlu
diketahui oleh penolong persalinan dalam melaksanakan tugasnya sebagai
pendamping atau penolong persalinan.
3.2
Saran
Semoga makalah yang
kami buat ini dapat bermanfaat bagi teman-teman yang membacanya khususnya
teman-teman jurusan kebidanan serta dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan
sehari-hari dan menangani masalah gangguan psikologi ibu pada masa persalinan.
DAFTAR PUSTAKA
Keliat, B.A. (2002),
Hubungan Terapeutik Perawat-Klien, EGC, Jakarta.
Kartono,
kartini. Psikologi Wanita Jilid 2 ( Mengenal Wanita Sebagai Ibu &Nenek ).
Jakarta : Mandar Maju Wiknjosastro,Hanifa. 2010. Ilmu Kandungan. Jakarta : PT.
Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawihardjo.Wulandari Diah. 2009. Pengantar Komunikasi dan
Konseling dalam Praktik Kebidanan.Yogyakarta : Mitra Cendikia Offiset
Rohani,Reni Saswita,Marisah.2011. Asuhan Kebidanan pada Masa
Persalinan.Jakarta: PT. Salemba Medika Dahro, Ahmad. 2011. Hal 81.
Psikologi Kebidanan. Bandar Lampung : Salemba Medika