animasi blog
Animasi Blog
animasi blog
Animasi Blog
animasi blog

Selasa, 21 Februari 2017

Kebudayaan Jawa



Nilai Budaya dan Adat Istiadat Jawa Saat Masa Kehamilan dan Kelahiran Anak
(ISBD)

 Hasil gambar untuk gambar kebudayaan KIA jawa


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadiran Tuhan YME karena berkat rahmatnya saya dapat menelesaikan tugas saya. Pada tugas ini saya membahas tentang Nilai Budaya Terhadap Upacara Adat Jawa Pada Masa Kehamilan dan Kelahiran Bayi. Indonesia mempunyai berbagai jenis macam suku dan budaya, yang masing-masing memiliki keunikan dan nilai moral tersendiri. Saya memilih adat Jawa karena begitu banyak hal tentang adat istiadat jawa yang menarik perhatian saya untuk mengkaji lebih dalam lagi. Begitu banyak aturan adat Jawa bagi perempuan yang sedang hamil, begitu juga masa kelahiran seorang bayi. Semua menarik perhatian saya, bahkan bukan hanya masa kehamilan dan kelahiran seorang bayi saja, tetapi pernikahan dan kematian pun juga ada aturan adatnya. Namun kali ini saya hanya membahas tentang adat istiadat Jawa pada masa kehamilan dan kelahiran bayi.
Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada sumber yang telah membantu saya dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan pembaca tentang budaya dan adat istiadat Jawa.

Yogyakarta, 20 Februari 2017


Chlara Melanie Triandari



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Anak adalah anugerah yang paling indah dari Tuhan, semua pasangan suami isteri begitu mendambakan kehadiran seorang anak untuk menjadi pelengkap keluarganya. Masa-masa kehamilan adalah masa yang tidak akan terlupakan bagi seorang ibu, mengandung bayi selama 9 bulan, mengidam dan merasakan mual menjadi hal yang harus dihadapi. Pada saat melahirkan seorang ibu harus berjuang mati-matian demi mengeluarkan malaikat kecil dari perutnya, nyawa yang menjadi taruhannya. Ketika bayi lahir dengan selamat dan ibu pun sehat adalah saat-saat yang paling membahagiakan bagi pasangan suami isteri beserta keluarga besarnya.
Bagi masyarakat Sumatra Utara khususnya suku Batak salah satu upacara adat melahirkan adalah upacara Mangharaon. Upacara ini dilakukan pada saat si ibu telah melahirkan, maka dengan segera si bapak menjatuhkan kayu besar dari atap rumah ke halaman lalu mengapaknya (Manaha Saganon), dimana kayu tersebut nantinya akan dibakar di atas tataring (tungku perapian), suara kampak ini merupakan tanda pengumuman pada seisi kampong bahwa seorang bayi telah lahir.
Setelah upacara itu selesai, tibalah masa krisis yang dinamakan Roburobuan lamanya 7 hari 7 malam. Selama masa krisis ini, seluruh penduduk/warga desa berkumpul di rumah si bayi tiap malam, agar selalu ada orang yang menjaga sehingga roh dan hantu jahat (Boru Sirumata atau Boru Sibalikhunik) jangan sampai mengganggu atau mengambil si bayi.
Setelah semua itu selesai ada upacara Martutuaek, upacara Mengebang, dan upacara Khitanan, yang masing-masing memiliki waktu upacara dan tradisinya masing-masing.
Bukan hanya masyarakat Batak saja yang mempunyai upacara adat kelahiran, tetapi adat Jawa juga mempunyai tradisi dan upacara adat kelahiran sendiri. Salah satu contoh misalnya Barokahan, Sepasaran dan lain-lain.
Itulah Indonesia, begitu banyak ragam tradisi adat istiadat yang turun temurun menjadi nilai tambah kebudayaan Indonesia.

1.2  Tujuan
Tujuan pembuatan makalah kali ini adalah sebagai berikut:
a.       Mengetahui pengertian budaya
b.      Mengetahui pengertian adat istiadat
c.       Mengetahui lebih dalam lagi tradisi adat istiadat kehamilan dan kelahiran anak diJawa
BAB II
ADAT ISTIADAT JAWA PADA MASA KEHAMILAN DAN KELAHIRAN ANAK

2.1 Pengertian Kebudayaan
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya merupakan suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

2.2 Pengertian Adat Istiadat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adat didefinisikan sebagai aturan (perbuatan) yang lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala. Adat adalah wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan-aturan yang satu dengan yang lainnya berkaitan menjadi satu sistem atau kesatuan. Sementara istiadat didefinisikan sebagai adat kebiasaan. Dengan demikian, adat istiadat adalah himpunan kaidah-kaidah sosial yang sejak lama ada dan telah menjadi kebiasaan (tradisi) dalam masyarakat. Sebagai contoh, dalam masyarakat Jawa terdapat adat istiadat untuk melakukan upacara Selapanan ketika seorang bayi telah berumur 40 hari. Upacara ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat Jawa sejak lama.

2.3  Adat Istiadat Jawa Pada Masa Kehamilan dan Kelairan Anak

A.    Macam-Macam Upacara Adat Jawa Saat Prosesi Kehamilan
Kehamilan merupakan masa-masa yang tidak terlupakan bagi seorang ibu, di adat Jawa terdapat beberapa upacara saat prosesi kehamilan yang sudah turun-temurun diwariskan oleh nenek moyang, upacara-upacara tersebut antara lain sebagai berikut:
a.      Upacara Tiga Bulanan
Upacara ini dilaksanakan pada saat usia kehamilan adalah tiga bulan. Di usia ini roh ditiupkan pada jabang bayi, biasanya upacara ini dilakukan berupa tasyakuran.

b.      Upacara Tingkepan natau Mitoni
Upacara tingkepan disebut juga mitoni, berasal dari kata “pitu” yang berarti tujuh, sehingga upacara mitoni dilakukan pada saat usia kehamilan tujuh bulan, dan pada kehamilan pertama.
Dalam pelaksanaan upacara tingkepan, ibu yang sedang hamil tujuh bulan dimandikan dengan air kembang setaman, disertai dengan doa-doa khusus. Berikut ini adalah tata cara pelaksanan upacara tingkepan antara lain:
1.      Siraman dilakukan oleh sesepuh sebanyak tujuh orang. Bermakna mohon doa restu supaya suci lahir dan batin. Setelah upacara siraman selesai, air kendi tujuh mata air dipergunakan untuk mencuci muka, setelah air dalam kendi habis, kendi dipecah.
2.       Memasukkan telur ayam kampong ke dalam kain (sarung) calon ibu oleh suami melaluo perut sampai pecah, hal ini merupakan harapan supaya bayi lahir dengan lancar tanpa suatu halangan.
3.      Berganti nyamping sebanyak tujuh kali secara begantian, disertai kain putih. Kain putih sebagai dasar pakaian pertama, yang melambangkan bayi yang akan dilahirkan adalah suci, dan mendapat berkah dari Tuhan YME. Diiringi dengan pertanyaan "sudah pantas atau belum” sampai ganti enam kali dijawab oleh ibu-ibu yang hadir “belum pantas” sampai yang terakhir ke tujuh kali dengan kain sederhana dijawab “pantas”. Adapun nyamping yang dipakaikan secara urut dan bergantian berjumlah tujuh dan diakhiri dengan motig yang paling sederhana, urutannya adalah sebagai berikut:
a.       Sidoluhur
b.      Sidomukti
c.       Truntum
d.      Wahyu Tumurun
e.       Udan Riris
f.       Sido Asih
g.      Lasem sebagai kain
h.      Dringin sebagai kemben

B.     Beberapa Pantangan Dalam Prosesi Kehamilan Adat Jawa
Berikut ini adalah pantangan bagi calon ibu dan calon ayah menurut tradisi Jawa, antara lain sebagai berikut:
a.       Ibu hamil dan suaminya dilarang membunuh binatang, sebab jika itu dilakukan bisa menimbulkan cacat pada janin sesuai dengan perbuatannya itu.
b.      Membawa gunting kecil / pisau / benda tajam lainnya di kantung baju si ibu agar janin terhindar dari marabahaya.
c.       Ibu tidak boleh keluar malam, karena banyak roh jahat yang akan mengganggu janin.
d.       Ibu hamil dilarang melilitkan handuk di leher agar anak yang dikandungnya tidak dililit tali pusar.
e.       Ibu hamil tidak boleh benci kepada sesorang secara berlebihan, nanri anaknya jadi mirip seperti orang yang dibenci tersebut.
f.       Ibu hamil tidak boleh makan pisang yang dempet, nanti anaknya jadi kembar siam.
g.       “Amit-amit” adalah ungkapan yang harus diucapkan sebagai “dzikir”-nya orang hamil ketika melihat peristiwa yang menjijikan, mengerikan, mengecewakan dan sebagainya sebagai harapan janin terhindar dari kejadian tersebut.
h.      Ngidam adalah prilaku khas perempuan hamil yang menginginkan sesuatu, makanan atau sifat tertentu terutama diawal kehamilannya. Jika tidak dituruti maka anaknya akan mudah mengeluarkan air liur.
i.        Dilarang makan nanas, nanas dipercaya dapat menyebabkan janin dalam kandungan gugur.
j.        Jangan makan ikan mentar agar bayi tidak bau amis.
k.      Untuk sang ayah dilarang mengganggu, melukai, bahkan membunuh hewan. Contohnya memancing, membunuh hewan, memburu, dan lain-lain.
Serta masih banyak pantangan-pantangan lain yang harus dihindari oleh calon ibu maupun ayah. Namun sebenarnya pantangan-pantangan tersebut dapat dinalar apabila ditelaah menurut ilmu pengetahuan, hanya saja beberapa kemungkinan tidak tertuju langsung dengan keberlangsungan hidup si jabang bayi kelak.

C.    Macam-Macam Upacara Adat Untuk Bayi
Bukan hanya pada saat kehamilan saja upacara adat atau ritual dilaksanakan. Ketika bayi itu pun lahir masih ada ritual dan upacara adat. Upacara ini pun berlangsung hingga si anak menginjak usia satu tahun. Namun, pelaksanaan upacaara ini dilaksanakan hanya di usia tertentu saja, berikut jenis-jenis upacara adat Jawa yang berkaitan dengan kelahiran anak:
a.      Upacara Adat Barokahan
Barokahan memiliki makna adalah pengungkapan rasa syukur dan rasa sukacita atas kelahiran yang berjalan lancar dan selamat. Ditinjau dari maknanya barokahan juga bisa berarti mengharapkan berkah dari Yang Maha Pencipta.
Tujuan dari upacara ini adalah untuk keselamatan dan perlindungan bagi sang bayi. Selain itu harapan bagi sang bayi agar kelak menjadi anak yang memiliki prikaku yang baik.
Rangkaian upacara ini berupa memendam ari-ari atau olasenta bayi. Setelah itu dilanjunkan dengan membagikan sesajen barokahan kepada sanak saudara dan para tetangga.

b.      Upacara Adat Sepasaran atau Pupuk Pusar
Sepasaran merupakan salah satu upacara adat bagi bayi berumur lima hari. Upacara ini umumnya diselengarakan secara sederhana, tetepi jika bersamaan dengan pemberian nama pada si bayi upacara ini bisa dilakukan secara meriah.
Acara ini biasanya dilaksanakan dengan mengadakan hajatan yang mengundang saudara dari tetangga. Suguhan yang disajikan biasanya berupa minuman serta jajanan pasar. Selain itu juga terkadang pula ada yang dibungkus tapi menggunakan besek (tempat makanan terbuat dari anyaman bambu) ataupun lainnya untuk dibawa pulang.


c.       Upacara Adat Selapan
Dalam bahasa Jawa, selapan berarti tiga puluh lima hari. Tradisi ini dilakukan pada peringatan hari kelahiran. Setelah 35 hari dari hari dimana bayi dilahirkan, maka diadakan perayaan dengan nasi tumpeng, jajan pasar dan berbagai macam makanan sebagai symbol dari makna-makna yang tersirat dalam tradisi Jawa.
Namun dalam perkembangannya, saai ini selapan sebagai ungkapan syukur atas kesehatan dan keselamatan bayi, diwujudkan cukup dengan nasi tumpeng beserta lauk seadanya. Kemudian mengundang tetangga untuk kendurenan (selamatan), berdoa besama-sama dan diujung acara, tumpeng dibagi rata untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Selapan sebagai harapan orang tua dan keluarga agar bayi selalu sehat, jauh dari marabahaya, dan apa yang diharapkan bisa terlaksana.

d.      Upacara Adat Mudhun Siti
Upacara ini dilakukan untuk bayi yang telah berusia 7 bulan. Di Yogyakarta, upacara ini disebut dengan tedhan siten. Upacara ini sebagai pelambang bahwa si anak telah siap untuk menjalani hidup lewat tuntunan dari si orang tua. Acara ini dilaksanakan pada saat anak berumur 7selapan atau 245 hari. Prosesi upacaranya adalah tedhak sega pitung warna, mudhun tangga tebu, ceker0ceker, sebar udik-udik, dan siraman.

BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Begitu beragam upacara adat Jawa saat kehamilan dan kelahiran anak, yang masing-masing tradisi tersebut mempunyai maknanya tersendiri. Upacara-upacara tersebut sudah turun temurun dilakukan dan sudah menjadi warisan budaya dari nenek moyang terdahulu. Pada adat Jawa juga terdapat pantangan-pantangan tersendiri bagi calon ibu yang sedang hamil dan juga calon ayahnya. Masih banyak lagi tradisi Jawa yang bisa dibahas, contohnya tradisi adat pernikahan, kematian, dan lain-lain. Bukan hanya adat Jawa saja yang mempunyai tradisi dan upacara seperti ini, tetapi adat lainpun juga ada, karena itulah Indonesia, begitu banyak suku adat yang mempunyai kebudayaan dan budayanya sendiri yang masing-masing telah menjadi nilai plus tersendiri untuk Indonesia.


3.2  Saran
Indonesia memiliki beragam tradisi dan budaya yang harus dilestarikan agar tidak punah, kita sebagai penerus bangsa harus bangga terhadap kebudayaan kita sendiri. Diharapkan bagi pembaca agar menggali lebih dalam lagi tradisi apa saja yang terdapat di Indonesia, agar pembaca bisa merasa lebih bangga pada Indonesia, tidak terpacu pada perkembangan zaman. Kebudayaan Indonesia itu khas, tidak ada di Negara manapun. Maka dari itu, bangga dan cintailah Indonesia.
Penulis merasa masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini, maka dari itu saran dan kritik dari pembaca sangat diperlukan demi membuat artikel ini lebih menarik untuk dibaca.

sumber:
  - Dari pengalaman keluarga



Pemberian Obat secara Epidural



Analgesia Epidural
 Hasil gambar untuk gambar analgesia epidural
            Bayak unit konsultan persalinan menyediakan layanan epidural 24 jam yang diberikan oleh ahli anastesi obstetri yang terlatih. Pemasukan anastesi lokal kedalam ruang epidural dilumbal dapat memberikan efek analgesia (bebas dari nyeri) maupun anastesia (penurunan sensasi). Selain tidak merasakan nyeri kontraksi , ibu juga mengalami ketidakmampuan menggerakan kaki, berkemih secara normal, dan merasakan dorongan untuk mengejan pada kala kedua persalinan. Hal tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan dan penambahan intervensi selama persalinan. Dengan adanya faktor-faktor tersebut dilakukan modifikasi teknik pemberian analgesik yang tidak mempengaruhi sensasi sepenuhnya, yaitu dengan mengkombinasikan pemberian spinal-epidural (CSE).
            Tujuan utama dari pemberian obat secara epidural yaitu untuk memberikan sensai psikis, mengurangi rasa cemas dan melindungi dari stres mental atupun faktor lain yang berkaitan dengan tindakan anastesi yang spesifik. Hasil akhir yang diharapkan dari pemberikan obat tersebut yaitu tejadinya sensasi dari pasien tanpa disertai depresi dari pernafasan dan sirkulasi. Rasa takut dan nyeri harus diperhatikan betul pada pra bedah. Serta diberikan analgesia, atau menghilangkan rasa sakit, dibandingkan anastesi yang mengarah terhadap total kurangnya perasaan. Epidural menghilangakn impuls saraf dari segmen tulang belakang lebih rendah. Obat epidural masuk kedalam obat yang disebut obat bius lokal;  seperti bupivakain, chloroprocaine, atau lidokain.

      1. Blok epidural
Anastesi lokal diinjeksiakan kedalam ruang epidural. Kateter kecil dipasang sehingga top-up (dosis bolus) anastesi lokal dapat diberikan setelah dosis sebelumnya habis, atau infus kontinu dapat diberikan menggunakan driver spuit.
Analgesia dan anastesi yang diberikan biasanya bersifat total. Pemberian analgesia epidural meningkatkan resiko terjadinya persalinan lama dan persalinan dengan bantuan alat, terutama bila epidural diberikan sebelum pembukaan mencapai 4 cm.

      2. Anastesi spinal
Sedikit anastesi lokal diinjeksikan kedaerah subaraknoid, dibawal L1, tempat ujung syaraf spinal. Analgesia dan anastesi biasanya total, seksio sesaria biasanya dilakukan dibawah anastesi spinal.

  3.  Combined spinal epidural (CSE)
Sedikit anastesi lokal atau analgesik opiat diinjeksiakan kedalam subaraknoid. Kemudian sebuah kateter dimasukan kedalam ruang epidural sehingga analgesia selanjutnya dapat dierikan baik secara bolus maupun melalui infus kontinu. Keuntungan dari teknik ini yaitu bahwa anlgesia yang berhasil dicapai, bukan anastesia. Penggunaan opiat (seringkali fentanil) memberikan efek analgesia yang cepat, tetapi berlangsung lama, dan disertai retensi sensasi. Pemberian dosis opiat kepada ibu harus diobservasi, komplikasi dari prosedur ini dapat berupa depresi pernafasan pada ibu dan janin.
CSE masih harus dievaluasi sepenuhnya. Peran bidan sama dengan saat CSE sedang dipasang atau analgesia berikutnya sedang diberikan, tetapi asuhan kontinu diberikan berbeda dengan asuhan yang diberikan pada ibu yang mendapat epidural standar. Infus intravena dapat dihentikan setelah CSE terpasang, sensasi ibu cukup baik untuk bermobilisasi, berkemih dan mengejan. Pada pemasangan CSE banyak terjadi pruritis (Colliset al, 1995) dan meningitis (O’Sullivan, 1997).

4.     Indikasi blok epidural
§  Pereda nyeri (atas permintaan ibu)
§  Bermanfaat saat terdapat kecenderungan persalinan dengan bantuan alat; malposisi, malpresentasi, kehamilan kembar, persalinan lama.
§  Hipertensi
§  Persalinan praterm
5.      Kontraindikasi
§  Semua jenis malfungsi pembekuan darah
§  Beberapa gangguan neurologis
§  Deformitas spinal
§  Sepsis lokal

6.       Efek samping epidural
§  Hipotensi (lebih menurun dengan CSE), mual, pingsan.
§  Dural tap, bila jarum secara tidak sengaja menusuk dura mater, mengakibatkan menurunnya tekanan intrakranialyang berpotensi menimbulkan sakit kepala berat selama beberapa hari berikutnya.
§  Anastesi spinal total; terlalu banyak memberikan injeksi anastesi lokal kedalam ruang subaraknoid dapt menyebabkan henti napas.
§  Blok parsial (nyeri membandel), yaitu saat kontraksi masih tetap dirasakan disalh satu area abdomen.
§  Toksisitas obat : gelisah, pusing, tinitus, rasa logam, mengantuk.
§  Perubahan suhu : ibu biasanya mengalami efek vasodilatasi dari bupivakain yang menyebabkan kaki terasa hangat, suhu meningkat namun tubuh menggil.
§  Retensi urine.

7      Prosedur pemasangan blok epidural tradisional
     Teknik ini dimodifikasi bila diberikan sebagai CES atau pemberianya menggunakan infus kontinu.
§  Dapat persetujuan tindakan dari ibu.
§  Anjurkan ibu untuk berkemih.
§  Panggil dokter anastesi.
§  Persiapkan alat:
1.      Perlengkapan untuk infus intravena
2.      Monitor CTG
3.      Troli balutan
4.      Skort dan sarung tangan steril
5.      Paket balutan steril, dengan linen berlubang (“duk bolong”) dan kasa
6.      Losion antiseptik, biasanya klorheksidin dalam alkohol isopropil 70%
7.      Paket epidural, biasanya berisi jarum touby, spuit, slang (kateter), dan filter
8.      Obat anastesi lokal untuk kulit dan epidural; lignokain dan bupivakain
9.      Spuit dan jarum steril
10.  Plester
11.  Balutan plastik untuk kulit

§  Pasang infus intravena, berikan cairan dosis pembebanan untuk mencegah hipotensi ( sesuai permintaan dokter anestesi)
§  Posisikan ibu, dengan salah satu cara dibawah ini, untuk melengkungkan spina sehingga akses diantara vertebra dapat diperoleh:
1.      Miring kekiri dengan lutut ditekuk dan dagu didada, namun punggung ibu sangat dekat dengan tepi tempat tidur
2.      Duduk ditepi tempat tidur dengan kedua kaki ditopang kursi, lengan bersandar diatas meja tempat tidur.
§  Bantu dokter anastesi memakai sarung tangan san skort dan membuat daerah aseptik yang benar; tuangkan losion, buka jarum dan spuit, pegang ampul anastetik lokal untuk diisap isinya.
§  Anjurkan ibu untuk tetap diam pada posisinya pada saat epidural dipasang oleh dokter anastesi. Selama aktivitas berlangsung dibagian punggung ibu, selanjutnya dukungan dan bantuan yang diperlukan yaitu:
1.      Punggung ibu dibersihkan, linen berlubang dibentangkan ditempatnya dan anastetik lokal diinsersikan ke dalam kulit.
2.      Jarum touby diinsersikan pada saat ibu bebas kontraksi dan sangat tenang.
3.      Digunakan spuit epidural (menginjeksikan udara untuk mengkaji adanya tahanan) untuk memastikan bahwa jarum touby berada ditempat yang benar.
4.      Kateter dimasukan ketempat tersebut dan jarum touby dicabut.

§  Semprotkan kulit plastik disekitar daerah tusukan dan fiksasi kateter dengan plester, bila anastetik telah siap, fiksasi filter ditempat yang mudan dijangkau, seringkali dibahu ibu.
§  Berikan sedikit dosis uji ; dosis pertama diberikan jika dokter anestesi merasa yakin bahwa kateter sudah siinsersikan dengan benar.
§  Bantu ibu keposisi yang sesuai dengan permintaan dokter anestesi selama 20 menit pertama setelah pemberian .
§  Kaji dan catat tekanan darah dan nadi setiap 5 menit selama 20 menit berikutnya.
§  Observasi kondisi ibu termasuk tingkat nyeri, kehangatan, keamanan, infus intravena, warna dan tanda-tanda mual.
§  Panggil dokter anastesi bila ada tanda dan gejala yang membutuhkan perhatian (hipotensi dapat diatasi dengan peningkatan kecepatan tetesan infus, namun dokter anastesi harus tetap dipanggil).
§  Bereskan alat dengan benar.
§  Pantau kondisi janin, catat epidural pada gambaran CTG.
§  Bila dalam 20 menit semua hasil observasi kondisi ibu dalam keadaan normal dan tingkat analgesia telah tercapai, posisikan kembali ibu sesuai denagn keinginann kondisi ibu dalam keadaan normal dan tingkat analgesia telah tercapai, posisikan kembali ibu sesuai dengan keinginanya.
§  Lanjutkan perawatan persalinan, termasuk perawatan kandung kemih dan tungkai kebas, dan membuat catatan yang benar.
§  Setelah 2-8 jam lakukan observasi adanya tanda-tanda kekambuhan, beriakn top-up sebelum ibu merasa tidak nyaman.

8.      Prosedur Top-up epidural
§  Kaji adanya kebutuhan pemberian top-up, periksa infus intravena dan siapkan alat:
1.      Obat sesuai resep (bupivakain)
2.      Jarum dan spuit steril
3.      Kapas alkohol untuk penghapus kuman

§  Posisikan ibu sesuai intruksi dolter anestesi , biasanya posisi miring pada kala I persalinan, dan duduk pada kala II.
§  Cuci tangan dan periksa kembali obat anastetik lokal bersama bidan lainnya dan ambil obat dengan dosis yang benar.
§  Bila ibu bebas dari kontraksi , buka penutup filter, desinfeksi port tersebut dengan kapas alkohol dan injeksikan obat anastetik lokal dengan kecepatan 5ml/30 detik.
§  Observasi ibu untuk adanya reaksi merugikan; tinitus, mengantuk, dan bicara tidak jelas.
§  Pasang kembali tutup filter
§  Nadi dan tekanan darah diukur seperti pada pemberiaan awal; setiap 5 menit selama sedikitnya 20 menit.
§  Posisikan ibu kembali dan bereskan alat.
§  Dokumentasikan pemberian dan pengaruhnya serta lakukan tindakan yang sesuai.
§  Lanjutkan observasi untuk dampak dan efek sampingnya

i)        Prosedur pelepasan kanula epidural
Kanula dicabut setelah epidural tidak lagi diperlukan, biasanya setelah persalinan selesai.
§  Minta persetujuan tindakan dari ibu, dan perhatikan privasinya.
§  Pasang sarung tangan steril, balutan tahan air dan kulit plastik pada ibu
§  Cuci tangan dan memakai sarung tangan steril
§  Buka plester dan minta ibu untuk membungkukkan punggungnya (sama dengan posisi pada saat insersi epidural) tarik keluar kateter dengan hati-hati dan cepat.
§  Pasang kulit plastik dan balutan tahan air steril
§  Periksa kateter untuk kelengkapannya dengan mengkaji gradasi dan keadaan sekeliling ujung kateter, untuk meyakinkan kondisinya, periksa ulang oleh orang kedua.
§  Dokumentasikan pencabutan kanula dan lakukan tindakan yang sesuai.

Kesimpulan:
  1.   Epidural dapat menjadi jenis analgesia yang paling efektif. 
  2.   Bidan berperan dan bertanggungjawab saat pemasangan epidural, atas asuhan yang kontinu dan atas penatalaksanaan top-up. 
  3.   Bidan bekerja sama dengan dokter anestesi obstetrik yang terampil, sehingga proses pemberian obat secara epidural dapat berjalan dengan baik dan sistematis.


Daftar pustaka:
Johnson Ruth, Taylor Wendy;dkk (2004), buku ajar praktik kebidanan, EGC: Jakarta.
Al-Azzawi, Farook (2002), Atlas teknik kebidanan E/2, EGC: Jakarta.