Pengertian kesehatan anak
Sehat dapat diartikan sebagai suatu
keadaan baik, seluruh badan serta bagian-bagian lainnya, atau suatu hal
ini yang mendatangkan kebaikan. Kesehatan sendiri dapat diartikan
sebagai keadaan sehat (terbebas dari penyakit) dan kebaikan keadaan
(badan atau yang lainnya). Dengan kata lain, kesehatan dapat diartikan
sebagai suatu keadaan yang sehat terbebas dari penyakit sehingga dapat
melakukan segala aktifitasnya tanpa hambatan fisik. Seseorang dikatakan
sehat jika ia memiliki kesehatan baik secara fisik (organ tubuh) maupun
psikis (mental,emosional, sosial, dan spiritual). (Soegeng, Santoso.
2008)
Pengertian sehat menurut UU Pokok
Kesehatan No. 9 tahun 1960, Bab I Pasal 2 adalah keadaan yang meliputi
kesehatan badan (jasmani), rohani (mental), dan sosial, serta bukan
hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan. Pengertian
sehat tersebut sejalan dengan pengertian sehat menurut Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1975 yaitu sehat adalah suatu kondisi yang
terbebas dari segala jenis penyakit, baik fisik, mental, dan sosial.
Beberapa penilaian kesehatan atau sehat yaitu :
- Sehat adalah perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain (aktualisasi). Perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten sedangkan penyesuaian diperlukan untuk mempertahankan stabilitas dan integritas struktural. ( Menurut Pender, 1982 )
- Sehat adalah fungsi efektif dari sumber-sumber perawatan diri (self care Resouces) yang menjamin tindakan untuk perawatan diri ( self care actions) secara adekuat. Self care resouces : mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap. Self care actions merupakan perilaku yang sesuai dengan tujuan diperlukan untuk memperoleh, mempertahankan dan meningkatkan fungsi psikososial dan spiritual. (Menurut Paune, 1983)
Dalam undang-undang N0. 23 Tahun 1992,
kesehatan mencakup 4 aspek, yakni: fisik (badan), mental (jiwa), sosial,
dan ekonomi. Dari batasan kesehatan tersebut diilhami oleh batasan
kesehatan menurut WHO yang paling baru. Pengertian kesehatan saat ini
memang lebih luas dan dinamis, dibandingkan dengan batasan sebelumnya.
Hal ini berarti bahwa kesehatan seseorang tidak hanya diukur dari aspek
fisik, mental, dan sosial saja, tetapi juga diukur dari produktivitasnya
dalam arti mempunyai pekerjaan atau menghasilkan sesuatu secara
ekonomi. Bagi yang belum memasuki dunia kerja, anak dan remaja, atau
bagi yang sudah tidak bekerja (pensiun) atau usia lanjut, berlaku arti
produktif secara sosial. Misalnya produktif secara sosial-ekonomi bagi
siswa sekolah atau mahasiswa adalah mencapai prestasi yang baik, sedang
produktif secara sosial-ekonomi bagi usia lanjut atau para pensiunan
adalah mempunyai kegiatan sosial dan keagamaan yang bermanfat, bukan
saja bagi dirinya, tetapi juga bagi orang lain atau masyarakat. Keempat
dimensi kesehatan tersebut saling mempengaruhi dalam mewujudkan tingkat
kesehatan seseorang, kelompok atau masyarakat. Itulah sebabnya, maka
kesehatan bersifat mengandung keempat aspek. Perwujudan dari
masing-masing aspek tersebut dalam kesehatan seseorang antara lain
sebagai berikut:
- Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
- Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual.
- Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.
- Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.
- Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa (Allah SWT dalam agama Islam). Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.
- Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.
- Kesehatan dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap hidupnya sendiri atau keluarganya secara finansial. Bagi mereka yang belum dewasa (siswa atau mahasiswa) dan usia lanjut (pensiunan), dengan sendirinya batasan ini tidak berlaku. Oleh sebab itu, bagi kelompok tersebut, yang berlaku adalah produktif secara sosial, yakni mempunyai kegiatan yang berguna bagi kehidupan mereka nanti, misalnya berprestasi bagi siswa atau mahasiswa, dan kegiatan sosial, keagamaan, atau pelayanan kemasyarakatan lainnya bagi usia lanjut.
Anak yang sehat adalah anak yang sehat
secara fisik dan psikis. Kesehatan seorang anak dimulai dari pola hidup
yang sehat. Pola hidup sehat dapat diterapkan dari yang terkecil mulai
dari menjaga kebersihan diri, lingkungan hingga pola makan yang sehat
dan teratur. (Soegeng, Santoso. 2008).
Menurut Departemen Kesehatan RI (1993)
ciri anak sehat adalah tumbuh dengan baik, tingkat perkembangannya
sesuai dengan tingkat umurnya, tampak aktif atau gesit dan gembira, mata
bersih dan bersinar, nafsu makan baik, bibir dan lidah tampak segar,
pernapasan tidak berbau, kulit dan rambut tampak bersih dan tidak
kering, serta mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan. (Soegeng,
Santoso. 2008).
- Faktor-faktor yang mempengatuhi kesehatan pada anak
Berbagai faktor yang mempengaruhi status kesehatan anak adalah
- Faktor kesehatan
Faktor kesehatan ini adalah merupakan
faktor utama yang dapat menentukan status kesehatan anak secara umum.
Faktor ini ditentukan oleh status kesehatan anak itu sendiri, status
gizi dan kondisi sanitasi.
Status gizi anak adalah keadaan kesehatan
anak yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik energi dan zat-zat
gizi lain yang diperoleh dari pangan dan makanan yang dampak fisiknya
diukur secara antroppometri ( Suharjo, 1996).
Ada beberapa cara melakukan penilaian
status gizi. Salah satunya adalah dengan pengukuran tubuh manusia yang
dikenal dengan Antropometri. Dalam pemakaian untuk penilaian status
gizi, antropomteri disajikan dalam bentuk indeks yang dikaitkan dengan
variabel lain. Variabel tersebut adalah sebagai berikut :
- Umur
Umur sangat memegang peranan dalam
penentuan status gizi, kesalahan penentuan akan menyebabkan interpretasi
status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan maupun tinggi
badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan
penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering muncul adalah adanya
kecenderungan untuk memilih angka yang mudah seperti 1 tahun; 1,5
tahun; 2 tahun. Oleh sebab itu penentuan umur anak perlu dihitung dengan
cermat. Ketentuannya adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30
hari. Jadi perhitungan umur adalah dalam bulan penuh, artinya sisa
umur dalam hari tidak diperhitungkan ( Depkes, 2004).
- Berat Badan
Berat badan merupakan salah satu ukuran
yang memberikan gambaran massa jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat
badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak baik karena penyakit
infeksi maupun konsumsi makanan yang menurun. Berat badan ini
dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat Badan menurut Umur) atau
melakukan penilaian dengan melihat perubahan berat badan pada saat
pengukuran dilakukan, yang dalam penggunaannya memberikan gambaran
keadaan kini. Berat badan paling banyak digunakan karena hanya
memerlukan satu pengukuran, hanya saja tergantung pada ketetapan umur,
tetapi kurang dapat menggambarkan kecenderungan perubahan situasi gizi
dari waktu ke waktu (Djumadias Abunain, 1990).
- Tinggi Badan
Tinggi badan memberikan gambaran fungsi
pertumbuhan yang dilihat dari keadaan kurus kering dan kecil pendek.
Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu terutama
yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir rendah dan kurang
gizi pada masa balita. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U (
tinggi badan menurut umur), atau juga indeks BB/TB ( Berat Badan
menurut Tinggi Badan) jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan
yang lambat dan biasanya hanya dilakukan setahun sekali. Keadaan indeks
ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan lingkungan yang tidak
baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat yang menahun ( Depkes RI, 2004).
- Faktor kebudayaan
Pengaruh budaya sangat menentukan status
kesehatan anak, dimana keterkaitan secara langsung antara budaya dengan
pengetahuan. Budaya dimasyarakat dapat menimbulkan penurunan kesehatan
dimasyarakat yang dianggap baik oleh masyarakat, padahal budaya tersebut
justu menurunkan kesehatan anak, sebagai contoh, anak yang badannya
panas akan dibawa kedukun, dengan keyakinan terjadinya kesurupan atau
kemasukkan barang gaib, anak pascaoperasi dilarang makan daging ayam,
kerena daging ayam dianggap dapt menambah nyeri yang ada pada luka
operasi ( nyeri atau ada anggapan lain bahwa luka tersebut sulit
sembuhnya ), kebiasaan memberikan pisang pada bayi abru lahir dengan
anggapan bahwa anak akan cepat besar dan berkembang, atau anak tidak
boleh makan daging dan telur karena dapat menimbulakan penyakit
cacingan. Berbagai contoh budaya yang ada dimasyarakat tersebut sangat
besar mempengaruhi derajat kesehatan anak, mengingat anak dalam masa
pertumbuhan dan perkembangan yang tentunya membutuhkan perbaikan gizi
atau nutrisi yang cukup.
- Faktor keluarga
Faktor keluarga biasanya menentukan
keberhasilan perbaikkan status kesehatan anak. Pengaruh keluarga pada
masa pertumbuhan dan perkembangan anak sangat besar melalui pola
hubungan anak dan keluarga serta nilai-nialinya yang ditamankan. Apakan
anak dijadikan sebagai pekerja atau anak diperkaukan sebagaiman
semestinya dan dipenuhi kebutuhannya, baik silih asah, asuh, dan
asihnya. Peningkatan status kesehatn anak juga terkait langsung dengan
peran dan fungsi keluarga terhadap anakanya, seperti membesarkan anak,
memberikan anak, menyediakan makanan, melindungi kesehatn, memberikan
perlindungan, secara psikolog, menanamkan nilai budaya yang baikk,
mempersiapkan pendidikan anak, dan lain-lainya ( Berman, 2000 ).
- A. Simpulan
Kesehatan anak sangat penting bagi
kehidupan si anak, orang tuanya maupun orang lain dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Kesehatan anak dapat dilihat secara fisik dan
psikis. Kesehatan anak ini dapat dimulai dari pola hidup yang sehat
terutama perawatan orang tuanya dari sejak kecil seperti menjaga
kebersihan diri, lingkungan hingga pola makan yang sehat dan teratur.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesehatan anak seperti faktor
kesehatan, faktor kebudayaan, dan faktor keluarga yang sangat
mempengaruhi kesehatan pada anak.
- B. Saran
Dalam menjaga kesehatan anak harus
dilaksanakan sedini mungkin, dengan melihat faktor-faktor yang
mempengaruhi kesehatan pada anak.
DAFTAR PUSTAKA
DSAK. Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. ECG. Jakarta
Alimatul Hidayat Aziz A. 2008. “ Ilmu Kehatanan Anak “. Salemba Medika.
Jakarta
http://zainal-a–fkm10.web.unair.ac.id/artikel_detail-35770-Kesehatan-Pengertian%20Sehat.html ( Zaenal Arifin 30 juni 2012 pkl 22.00)
https://madaniyogyakarta.wordpress.com/2013/03/18/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-kesehatan-anak/#more-32
Tidak ada komentar:
Posting Komentar