Praktikum Penentuan HCG dalam Urin
BAB I
PENDAHULUAN
Darah
merupakan cairan tubuh yang mempunyai fungsi sangat penting, terutama pada
hewan dan manusia, salah satunya karena selain sebagai pengangkut hormon,
pengedar panas dalam tubuh serta sebagai antibody, darah juga merupakan zat
antara (medium tranport) yang membawa zat-zat makanan ke berbagai bagian tubuh
kemudian membuang sisa-sisa hasil metabolisme.
Darah
mempunyai tingkat keasaman atau kebasaan tertentu. Keadaan pH darah pada
tiap-tiap makhluk hidup berbeda-beda. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh
beberapa faktor yaitu faktor intrinsik yang terdiri atas volume darah dan jenis
kelamin. Selain itu juga dapat disebabkan karena faktor ekstrinsik yang berupa
status gizi yang diberikan dan pengaruh lingkungan.
Urine atau
disebut juga dengan air kemih merupakan hasil filtrasi ginjal. Sebagian dari
hasil pemecahan yang terdapat akan disaring oleh ginjal. Pada acara praktikum
kali ini tidak hanya dibahas tentang urine manusia normal tetapi juga dilakukan
percobaan dengan wanita hamil. Pada urine wanita hamil dilakukan penelitian
untuk mengetahui berapa bulan kandungan. Pada awal kehamilan juga diekskreikan
HCG ( Human Chorionik Gonadotropin ) yang merupakan glikoprotein yang mengadung
galaktosa dan heksosamin ke dalam urine. Didalam HCG tersebut juga terdapat
proses reaksi antigen – antibodi.
Ureter
adalah organ yang menyalurkan urine dari ginjal ke kandung kencing (blader).
Cara masuknya ureter menembus dinding blader sedemikian rupa, sehingga
membentuk suatu katub yang mencegah arus balik urine ke ginjal. Leher kantung
kencing (blader) bersambungan dengan uretra, dan otot dinding blader bagian
leher tersusun secara melingkar, membentuk suatu sfiagler yang mengontrol lewatnya
urine masuk ke uretra.
BAB II
TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan
praktikum dalam penentuan HCG dalam urine adalah untuk mengetahui prinsip -
prinsip dan cara-cara penentuan HCG dalam urine secara kualitatif. Selain itu
praktikan diharapkan mampu menggunakan alat test slide untuk mengadakan
percobaan HCG dalam urine.
Manfaat
dalam praktikum dasar fisiologi ternak ini memberikan pengetahuan tentang apa
yang dimaksud dengan HCG yang terdapat dalam urine serta dapat mendeteksi urine
pada wanita hamil.
BAB III
Tinjauan Pustaka
Sistem
urinasi bertujuan untuk berlangsungnya ekskresi bermacam-macam produk buangan
dari dalam tubuh. Sistem ini juga penting sebagai faktor untuk mempertahankan
homeokinetis (homeostatis), yaitu suatu keadaan yang relatif konstan dari
lingkungan internal di dalam tubuh. Hal tersebut mencakup faktor-faktor yang
beragam seperti keseimbangan air, pH, tekanan osmotik, tingkat elektrolit dan
konsentrasi banyak zat didalam plasma (Frandson, 1993).
Menurut
Frandson (1993) Human Chorinic Gonadotropin (HCG) adalah suatau glikoprotein
yang mengandung galaktosa dan heksosamin. Kadar HCG meningkat dalam darah dan
urine segera setelah implantasi ovum yang sudah dibuahi. Dengan demikian
ditemukannya HCG merupakan dasar bagi banyak tes kehamilan (Murray et al,
1999). Tes kehamilan menggunakan urine, ,karena dalam wanita hamil mengadung
HCG (Human Chorionic Gonadotropin). HCG yaitu suatau hormon glikoprotein yang
mempertahankan system reproduksi eanita dalam keadaan cocok untuk kehamiln . HCG
disentesa pada retikulum endoplasma kasar, glikosilasi disempurnakan apparatus
golgi (Johnson,1994). HCG dapat juga digunakan dalam upaya mersinkronkan
ovulasi dan perkawianan yang diperlukan agar terjadi suatu konsepsi
(Frandson,1993). Bila terdapat HCG dalam urine , HCG terikat pada antibodi dan
dengan demikian akan mencegah aglutinasi partikel lateks yang dilapisi HCG yang
diperlihatkan oleh antibodi tersebut. Dengan demikian uji kehamilan positif
apabila tidak terjadi aglutinasi, dan kehamilan negatif jika terjadi aglutinasi
(Pearce , 1997 ).
Volume urine yang dikeluarkan kemungkinan besar dikarenakan variasi jumlah air yang masuk dalam tubuh dan eliminasinya oleh paru-paru dan kulit. Rata-rata volume yang dikeluarkan berkisar antara 1 sampai 1,5 liter perhari. Volume air habis oleh paru-paru selalu konstan, sedangkan yang disekresikan oleh kulit berfariasi tergantung pada temperature dan kelembaban udara dan intensitas panas yang dihasilkan oleh aktivitas otak.(Tuttle & Schotelius,1961). Urin yang diekskresikan selama 24 jam, pada diet biasa meliputi air 1,2 L; urea 30 gr; asam urat 0,5 gr; kreatinin 1,0 gr; lainnya 10,0 gr; materi organik 3,0 gr. (Tuttle dan Schottelius, 1961).
Dalam urine
juga terdapat tingkat keasaman (pH). Urine dalam keadaan asam dengan pH yang
lebih rendah dari 6, ada asam yang dapat ditibrasi, ada ion-ion amonium, tetapi
tidak ada ion bikarbonat. Sel-sel tubulus renal memiliki kemampuan untuk
membentuk amoniak ( NH3 ) dari deaminasi asam-asam amino. Amonia tersebut
berdifusi ke dalam tubulus dan segera bereaksi dengan ion-ion hidrogen
membentuk ion-ion amonium ( NH4+ ) yang kemudian diekskresikan ke dalam urine,
dalam kombinasi dengan klorida atau ion-ion negatif lainnya. Ini adalah cara
untuk memindahkan ion hidrogen dan klorida, sementara garam netral amonium
klorida membantu mempertahankan pH yang normal dari filtrat. Reabsorbsi
bikarbonat dan ion-ion Na+ ke dalam plasma darah, merupakan cara yang penting
guna mengotrol keseimbangan asam basa. pH urine yang terakhir, tergantung pada
kuantitas berbagai ion yang terdapat di dalamnya. Peningkatan bikarbonat
menyebabkan meningkatnya kebasaan ( alkalinitas ) urine. Urine yang asam dapat
dihasilkan oleh pertukaran natrium dengan ion-ion hidrogen atau amonium
klorida. ( Frandson , 1993 ).
Urine yang
terus menerus bersifat asam dapat terjadi pada asidosis respiratorik atau
asidosis metabolik & pada piroksida (demam) , sedangkan urine yang terus
menerus bersifat basa menyatakan adanya infeksi pada saluran kemih oleh
organisme yang menguraikan urea. Contoh pada infeksi proteus, pH urine tetap
sebesar 8 atau lebih tinggi lagi. Urine yang terus menerus bersifat basa juga
terjadi pada renal tubular asidosis (penyakit ginjal dimana bikarbonat tidak
dapat dikonservasi), pada kekurangan kalium & pada sindroma Fanconi
(penyakit ginjal dimana terjadi gangguan ekskresi amonia) (S.A. Price d Sistem
uriner terdiri dari dua ginjal dua ureter, kandung kencing , dan uretra. Ginjal
melakukan fungsi vital sebagai pengatur volume dan komposisi kimia darah dengan
mengekskresikan solut dan air secara selektif. Fungsi vital ginjal dilakukan
dalam organ dengan filtrasi plasma darah melalui glomerulus, diikuti dengan
proses reabsorbsi sejumlah cairan dan air sesuai disepanjang tubulus ginjal.
Kelebihan solut dan air akan diekskresikan sebagai urine melalui sistem keluar
tubuh. Menurut Pearce (1997) Dalam ginjal terjadi rangkaian proses pembentukan
urine, yaitu sebagai berikut :
1. Penyaringan atau filtrasi zat-zat sisa metabolisme. Proses ini dilakukan oleh simpai Bowmen.
2. Penyerapan kembali atau reabsorbsi zat-zat yang masih berguna bagi tubuh. Proses ini berlangsung di sepanjang tubulus kontortus proksimal hingga gelung Henle.
3. Pengeluaran zat yang tidak diperlukan dan tidak dapat disimpan dalam tubuh yang disebut augmentasi. Proses ini terdapat di tubulus kontortus distal hingga tubulus kolektifus.
Pengeluaran
glukosa yang terus meningkat akan menyebabkan diabetes. Hal ini disebabkan
karena jika konsentrasi glukosa yang memasuki tubulus ginjal lebih dari 225 mg
per menit, sebagian besar glukosa ini akan keluar melalui urine. Nilai itu
sesuai dengan konsentrasi plasma yaitu 180 mg per 100 ml dan disebut renal
threshoid.. Jika konsentrasi glukosa naik terus melebihi 325 mg per menit,
yaitu nilai Tm untuk glukosa. Diginjal kelebihan glukosa ini keluar melalui
urine. Karena pada penderita diabetes yang tidak diobati, dapat mencapai nilai
gula darah diantara 300-500 mg per 100 ml, maka beberapa ratus gram glukosa
dapat keluar melalui urine per hari (Effendi, 1991). Meski glukosa dapat
melalui membran glomerolus, dalam keadaan normal konsentrasi glukosa
dipertahankan melalui reabsorbsi yang sempurna. Dalam kenyataannya, adanya
glukosa didalam urine merupakan keadaan yang tidak normal ( Tjokroprawiro , 1992
).
BAB IV
METODOLOGI PRAKTIKUM
Praktikum
Dasar Fisiologi Ternak tentang penentuan HCG dalam urin dilaksanakan pada hari
Selasa tanggal 27 Mei 2008 pada pukul 07.00 - 09.00 WIB di Laboratorium
Struktur dan Fungsi Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro Semarang.
4.1. Materi
Bahan yang
diperlukan dalam praktikum ini adalah urine wanita hamil dan urine wanita
dewasa yang tidak hamil (urine normal). Alat yang diperlukan dalam praktikum
ini adalah test slide dan gelas transparan.
4.2. Metode
Menyiapkan
urine wanita hamil dan urine wanita dewasa tidak hamil (urine normal). Langkah
selanjutnya adalah menyelupkan test slide ke dalam tabung yang berisi sampel
urine, sampai tanda panah pada slide, tunggu selama 20 detik, lalu angkat test
slide dan letakkan dalam tempat yang kering, lakukan pengamatan pada test slide
setelah 3 menit. Bila pada indikator terdapat satu strip berarti hasilnya
negatif, tetapi apabila pada indikator terdapat dua strip berarti hasilnya
positif. Mengulangi test pada urine wanita hamil pada temperatur di bawah
temperatur kamar.
BAB V
HASIL PERCOBAAN
Dari hasil praktikum tentang Penentuan HCG Dalam Urine dapat diketahui bahwa urine pada wanita hamil menunjukkan dua strip pada test slide yang berarti hamil sedangkan pada urine wanita dewasa yang tidak hamil (urine normal) menunjukkan satu strip pada test slide yang berarti tidak hamil.
BAB VI
PEMBAHASAN
Dari hasil
percobaan diperoleh hasil pada wanita hamil menunjukkan dua strip pada test
slide yang berarti positif sedangkan pada wanita yang tidak hamil (urine
normal) menunjukkan satu strip pada test slide yang berarti negative.
HCG
berfungsi untuk mempertahankan corpus luteum yang membuat estrogen dan
progesteron sampai saat plasenta terbentuk sepenuhnya dan dapat membuat sendiri
cukup estrogen dan progesteron. Pada waktu itu kadar HCG juga turun.
(Prawirohardjo, 1976). Human Chorionic Gonadotropic adalah hormon yang terdapat
pada urine semasa kebuntingan pada manusia. Oleh sebab itu HCG hanya dapat
digunakan pada manusia saja, sedangkan pada hewan tidak dapat digunakan
(Pearce, 1997).
HGC dalam
urine akan diketahui pada wanita hamil karena HGC terbentuk hanya pada wanita
yang sedang hamil. Adanya HCG dapat dideteksi 8-9 hari setelah adanya peristiwa
ovulasi. HCG dalam urine berisi dua reagen, pertama adalah suspensi partikel
lateks yang dilapisi atau terikat secara kovalen dengan HCG dan yang lain
berisi larutan antibodi HCG. Bila terdapat HCG dalam urine, HCG terikat pada
antibodi dan dengan demikian akan mencegah aglutinasi partikel lateks yang
dilapisi HCG yang diperlihatkan oleh antibodi tersebut. Dengan demikian uji
kehamilan positif, apabila tidak terjadi aglutinasi, dan kehamilan negatif jika
terjadi aglutinasi. Identifikasi HCG ini dapat dilakukan pada awal-awal
kehamilan (Murray et al, 1999).
Test slide
ini sangat tergantung pada kerja sama antibodi dan antigen. Antibodi ini zat
kimia yang dihasilkan oleh limfosit dan struktur lain di dalam tubuh. Sedangkan
antigen, zat asing yang masuk dan merangsang reaksi kimia tubuh. Jika antigen
masuk ke dalam jaringan tubuh, antibodi bereaksi sehingga antigen tidak
berbahaya lagi. Tiap antibodi hanya bereaksi terhadap antigen tertentu.
Antibodi-antibodi itulah yang “ditambatkan” pada media tes, yang mempunyai dua
strip (garis) indicator (Pearce, 1997).
Pada fase
kehamilan bulan ketiga dan keempat, korpus luteum masih menghasilkan hormon
estrogen dan progresteron. Kedua hormon tersebut mempunyai peranan dalam
mengatur dinding uterus sehingga siap untuk menerima implantasi dan memberikan
segala sesuatu yang dibutuhkan oleh zigot yang sedang berkembang. Pada fase
ini, juga sudah terjadi rangsangan pada kelenjar susu, sehingga pada saat
diperlukannya sudah siap berfungsi. Selanjutnya fungsi korpus luteum diganti
oleh plasenta yang menghasilkan hormon yang diperlukan untuk kehidupan janin
dalam rahim. Hormon HCG (Human Chorionic Ganadotropin) yang bekerja dari hari
kedelapan sampai minggu kedelapan kehamilan dapat digunakan untuk mengetes
kehamilan, karena hormon tersebut dijumpai dalam urine orang yang hamil. Hormon
lain yang dihasilkan oleh plasenta adalah hormon yang mempengaruhi kerja
kelenjar susu untuk mengatur metabolisme ibu yang hamil, sehingga apa yang
dibutuhkan ibu bisa dikurangi dan disalurkan kejanin, dan juga untuk
mempersiapkan kebutuhan energi bagi ibu. Hormon penting lain yang juga
dihasilkan plasenta adalah relaksin yang mempengaruhi fleksibilitas simfisis
pubis dan organ-organ lain di daerah tersebut sehingga mempermudah
kelahiran.(Kimball, 1994).
BAB VII
KESIMPULAN
HCG (Human
Chorinic Gonadotropin ) dalam urine wanita hamil menunjukkan dua stip pada test
slide yang berarti wanita tersebut mengalami kehamilan sedangkan pada urine
wanita tidak hamil (urine normal) menunjukkan satu stip pada test slide yang
berarti wanita tersebut tidak mengalami kehamilan.
Hormon HCG
dapat ditemukan pada urine wanita hamil. Hormon ini dihasilkan oleh jaringan
plasenta yang sedang berkembang sesaat setelah terjadi pembuahan. HCG dapat
digunakan sebagai pendeteksi kehamilan. Prinsip kerja HCG test adalah reaksi
penghambatan aglutinasi yang digunakan untuk menunjukkan hormon HCG yang
disekresikan kedalam urine selama masa kehamilan.
DAFTAR PUSTAKA
Effendi hasjim. DR, et all. 1991. Fisiologi dan Pathofisiologi Ginjal. Alumni, Bandung.
Frandson, R.D. 1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (diterjemahkan oleh B. Srigandono & Koen Praseno).
Johnson K. E. 1994. Histologi dan Fisiologi Sel. Binarupa Aksara, Jakarta.
Murray, Robert K. et al. 1999 Biokimia Harper. ECG. Jakarta.
Pearce, E. 1997. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Prawirohardjo, S. 1976. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.
One Med Health Care. Test Kehamilan Instant. Dep. Kes. RI. KL.
0101200105.
Tuttle, W.W. and Schottelius, Byron A. 1961. Texbook of Physiology The C. V. Mosby Company, St. Louis, USA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar