KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kepadat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas mata
kuliah Etikolegal dalam Praktik Kebidanan dengan judul “Dilema Moral“,
dalam penyelesaian makalah ini, kami mendapat banyak bantuan oleh berbagai
pihak. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.
Florentina Kusyanti, M.Kes selaku dosen pembimbing
mata kuliah Etikolegal dalam Praktik Kebidanan yang telah
memberikan tugas makalah dan bantuan dalam penyelesaian makalah ini.
2.
Orang tua kami yang tidak pernah lelah memberikan motivasi dan doa dalam
penyelesaian makalah ini.
3.
Teman – teman kelas IBI yang telah
memberikan motivasi dan saran-saran dalam penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari bahwa
makalah ini masih kurang sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua
pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah
selanjutnya.
Besar harapan kami
semoga makalah ini dapat bermanfaat sebagai informasi ataupun pengetahuan bagi
pembaca dan dapat menjadi literatur guna membantu siswa dalam belajar mata
kuliah Etikolegal dalam Praktik Kebidanan.
Yogyakarta, 16 Maret 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 2
1.3 Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
2.1 Pengertian dilema moral 3
2.2 Bentuk-bentuk dilema moral 4
2.3 Teori etika 4
2.4 Teori-teori pengambilan keputusan 7
2.5 Pengambilan Keputusan dalam menghadapi Dilema Moral dalam Pelayanan Kebidanan 7
BAB III TINJAUAN KASUS 13
3.1 Contoh kasus 13
3.2 Penyelesaian masalah 14
BAB III PENUTUP 15
4.1 Kesimpulan 15
4.2 Saran 16
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Etika
merupakan bagian dari filosopil yang berhungan erat dengan nilai manusia dalam
menghargai suatu tindakan, apakah benar atau salah dan apakah penyelesaiannya
baik atau buruk (jones,1994).Moral merupakan pengetahuan atau keyakinan tentang
adanya hal yang baik dan buruk serta mempengeruhi sikap seseorng. Kesadaran
tentang adanya baik dan buruk berkembang pada diri seseorng seiring dengan
pengaruh lingkungan, pendidikan, sosial budaya, agama dsb, hal inilah yang
disebut kesadaran moral atau kesadaran etik. Moral juga merupakan keyakinan
individu bahwa suatu adalah mutlak baik atau buruk walaupun situasi berbeda.
Kesadaran
moral erat kaitannya dengan nilai-nilai, keyakinan seseorang dan pada
prinsipnya semua manusia dewasa tahu akal hal yang baik dan buruk, inilah yang
disebut suara hati. Perkambangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi berdampak pada
perubahan pola pikir manusia. Masyarakat semakin kritis sehingga terjadi
penguatan tuntunan terhadap mutu pelayanan kebidanan. Mutu pelayanan kebidanan
yang baik perlu landasan komitmen yang kuat dangan basis etik dan moral yang
baik.
Dalam
promosi kesehatan seringkali bidan dihadapkan pada beberapa permasalahan yang
dilematik, artinya pengambilan keputusan yang sulit berkaitan dengan etika.
Dilema muncul karena terbentuk pada konflik moral, pertentangan batin atau
pertentangan antara nilai-nilai yang diyakinkan bidan dengan kenyataan yang
ada.
1.2 Rumusan
Masalah
a. Apa
pengertian etika dalam kebidanan?
b. Apa
pengertian dilema moral kehamilan, persalinan, dan KB?
c. Bagaimana
pengambilan keputusan yang etis ?
d. Menjelaskan
teori-teori pengambilan keputusan?
e. Apa
contoh kasus dalam dilemma moral?
f. Bagaimana
cara penyelesaian masalah dalam kasus dilema moral?
1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui pengertian etika dalam
kebidanan
b.
Untuk
mengetahui pengertian dilema moral, kehamilan, persalinan, dan KB.
c. Untuk
mengetahui pengambilan keputusan yang etis.
d. Untuk
mengetahui teori-teori pengambilan keputusan
e. Untuk
mengetahui contoh kasus dilemma moral.
f. Untuk mengetahui cara penyelesaian masalah
dalam kasus dilemma moral.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian
Etika
merupakan bagian dari filosofil yang berhubungan erat dengan nilai manusia
dalam menghargai suatu tindakan, apakah benar atau salah dan apakah
penyelesaiannya baik atau buruk (jones,1994). Moral merupakan pengetahuan atau
keyakinan tentang adanya hal yang baik dan buruk serta mempengeruhi sikap
seseorang. Kesadaran tentang adanya baik dan buruk berkembang pada diri
seseorng seiring dengan pengaruh lingkungan, pendidikan, sosial budaya, agama
dsb, hal inilah yang disebut kesadaran moral atau kesadaran etik. Moral juga
merupakan keyakinan individu bahwa suatu adalah mutlak baik atau buruk walaupun
situasi berbeda.
Beberapa
permasalahan pembahasan etika dalam promosi kesehatan yang berkaitan dengan
kebidanan adalah sebagai berikut:
a. Persetujuan
dalam proses melahirkan.
b. Memilih
atau mengambil keputusan dalam pesalinan.
c. Kegagalan
dalam proses persalinan.
d. Pelaksanaan
USG dalam kehamilan.
e. Konsep
normal pelayanan kebidanan.
f. Bidan
dan pendidikan sex.
Ada
beberapa masalah etik yang berhubungan dengan teknologi, contohnya sebagai
berikut:
a. Perawatan intensif pada bayi.
b. Skrining bayi.
c. Transplantasi organ.
d. Teknik reproduksi dan kebidanan.
Etika
berhubungan erat dengan profesi, yaitu:
a. Pengambilan
keputusan dan penggunaan etika.
b. Otonomi
bidan dan kode etik profesional.
c. Etika
dalam penelitian kebidanan.
d. Penelitian
tentang masalah kebidanan yang sensitif.
Perlu
juga disadari bahwa dalam kebidanan seringkali muncul masalah dimasyarakat yang
berkaitan dengan etika dan moral, dilema serta konflik yang dihadapi bidan
sebagai praktisi kebidanan. Bidan dituntut berperilaku hati-hati dalam setiap
tindakannya dalam memberikan pelayanan kebidanan dengan menampilkan perilaku
yang etis profesional.
Dilema
moral menurut Campbell adalah suatu keadaan dimana dihadapkan pada dua
alternatif pilihan, yang kelihatanya sama atau hampir sama dan membutuhkan
pemecahan masalah harus mengigat akan tanggung jawab profesional, yaitu :
a. Tindakan
selalu ditujukan untuk peningkatan kenyamanan, kesejahtraan pasien atau klien.
b. Menjamin
bahwa tidak ada tindakan yang menghilangkan sesuatu bagian (omission), disertai
rasa tanggung jawab, memperhatikan kondisi dan keamanan pasien atau klien.
2.2 Pengambilan
Keputusan Yang Etis
a. Ciri
keputusan yang etis, meliputi:
1) Mempunyai
pertimbangan benar salah.
2) Sering
menyangkut pilihan yang sukar.
3) Tidak
mungkin dielakkan.
4) Dipengaruhi
oleh norma, situasi, iman, lingkungan sosial.
b. Situasi
1) Mengapa
kita perlu mengerti situasi:
a) Untuk
menerapkan norma-norma terhadap situasi.
b) Untuk melakukan
perbuatan yang tepat dan berguna.
c) Untuk
mengetahui masalah-masalah yang perlu diperhatikan.
c. Kesulitan-kesulitan dalam mengerti situasi:
1) Kerumitan
situasi dan keterbatasan pengetahuan kita.
2) Pengertian
kita terhadap situasi sering dipengaruhi oleh kepentingan, prasangka dan
faktor-faktor subjektif lain.
d. Bagaimana kita memperbaiki pengertian kita tentang situasi:
1) Melakukan
penyelidikan yang memadai.
2) Menggunakan
sarana ilmiah dan keterangan parah ahli.
3) Memperluas
pandangan tentang situasi.
4) Kepekaan
terhadap pekerjaan.
5) Kepekaan
terhadap kebutuhan orang lain.
2.3 Teori-Teori
Pengambilan Keputusan
a. Teori Utilitarisme
Teori utilitarisme mengutamakan adanya
konsekuensi kepercayaan adanya kegunaan. Dipercaya bahwa semua manusia
mempunyai perasaan menyenangkan dan perasaan sakit. Ketika keputusan dibuat
seharusnya memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan ketidaksenangan. Prinsip
umum dalam utilitarsme adalah didasari bahwa tindakan moral menghasilkan
kebahagiaan yang benar bila menghasilkan jumlah atau angka yang benar. Ada dua
bentuk teori utilitarisme, yaitu:
1) Utilitarisme
berdasarkan tindakan,
2) Utilitarisme
berdasar aturan.
Prinsip
untilitarisme berdasar tindakan adalah setiap tindakan ditujukan untuk
keuntungan yang akan menghasilkan hasil atau tingkatan yang lebih besar.
Utilitarisme berdasar aturan adalah modifikasi antara utilitarisme tindakan dan
aturan moral, aturan yang baik akan menghasilkan keuntungan yang maksimal.
Tindakan individu didasarkan atas prinsip kegunaan dan aturan moral,Tindakan
dikatakan baik . menurut filsuf johan stuart mill(1864), bahwa kesenangan dan
kebahagiaan dinilai secara kualitatif. Menurutnya “everebody to count for
one,nobodiy to count for more than one”, suatu perbuatan dinilai baik, jika
kebahagiaan melebihi ketidak bahagiaan. Tidak ada seorang pung yang tidak
berguna bagi yang lain. Kebahagiaan terbesar adalah milik semua orang. Menurut
richard B. Brandt bahwa perbuatan dinilai baik secara moral, jika sesuai dengan
aturan moral yang berlaku dan berguna pada suatu masyarakat.
b. Teori deontology
Menurut immanuel kant (1724-1804),sesuatu
dikatakan baik dalam arti sesungguhnya adalah kehendak yang baik, jika
digunakan dengan baik oleh kehendak manusia, tetapi jika digunakan dengan
kehendak yang jahat, akan menjadi jelek sekali. Kehendak menjadi baik jika
bertindak karena kewajiban.karena seseorang bertindak karena motif tertetu atau
keinginan tertentu berarti disebut tindakan yang tidak baik. Bertindak sesuai
kewajiban, disebut legalitas. Menurut W.D Ross(1877-1971), setiap manusia
mempunyai intuisi akan kewajiban, semua kewajiban berlaku langsung pada diri
kita.kewajiban untuk mengatakan kebenaran merupakan kewajiban untuk, termasuk
kewajiban kesetiaan, ganti rugi,terima kasih, keadilan, berbuat baik dsb.
Contoh yang lain adalah bila berjanji harus ditepati, bila meminjam harus
dikembalikan dsb. Dengan memahami kewajiban akan terhindar dari keputusan yang
menimbulkan komplik atau dilema.
c. Teori hedonism
Menurut Aristippos (433-355 SM), sesuai
kodratnya setiap manusia mencari kesenangan dan menghindari ketidaksenangan.
Akan tetapi ada batas untuk mencari kesenangan. Hal yang penting adalah menggunakan
kesenangan dengan, dan tidak terbawa oleh kesenangan. Menurut epikuros (341-270
SM) dalam menilai kesenangan (hedone) tidak hanya kesenangan inderawi, tetapi
kebebasan dari rasa nyeri, kebebasan dari keresahan jiwa juga. Apa tujuan dari
kehidupan manusia adalah kesenangan. Menurut john locke (1632-1704), kita sebut
baik bila meningkatkan kesenangan dan sebaliknya dinamakan jahat kalau
mengurangi kesenangan atau menimbulkan ketidaksenangan.
d. Teori
eudemonisme
Menurut falsuf Yunani Aristoteles (383-322
SM) dalam buku Ethika Nikomakheia, bahwa dalam setiap kegiatannya manusia
mengejar suatu tujuan, ingin mencapai sesuatu yang biak bagi kita. Seringkali
kita mencari suatu tujuan untuk terakhir hidup manusia adalah kebahagian
(eudaimonia).Seseorang mampu mencapai tujuannyan jika mampu menjalankan
fungsinya denga baik, keunggulan manusia adalah akal dan budi. Munusia mencapai
kebahagian dengan menjalankan kegiatan yang rasional. Ada dua macam keutamaan
intelektual dan keutamaan moral.
2.4 Bentuk-bentuk
Dilema Moral
Menurut uchamp
and Childress ada 2 bentuk dilema moral:
a. Bila alternatif tindakan sama kuat Bea
Terdapat alasan yang sama kuat untuk melakukan tindakan atau tidak
melakukan tindakan.
b. Bila alternatif tindakan tidak sama kuat
Satu tindakan dianggap “benar” dan tindakan lain
dianggap “salah”.
2.5 Pengertian Kehamilan
Proses kehamilan
merupakan mata rantai yang berkesinambungan dan terdiri dari :
a. Ovulasi pelepasan ovum
b. Terjadi migrasi spermatozoa dan ovum
c. Terjadi konsepsi dan pertumbuhan zigot
d. Terjadi nidasi (implantasi) pada uterus
e. Pelepasa plasenta
f. Tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm
Menurut Federasi
Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi
atau penyatuan dari s[ermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau
implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi,kehamilan
normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan
menurut kalender internasional. Kehamilanterbagi atas 3 trimester, dimana
trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 15 minggu (minggu
13 sampai ke-27), dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40).
Kehamilan adalah
pertemuan seltelur dengan sperma yang diikuti dengan nidasi/implantasi.
Kehamilan adalah pertemuan antara sel telur dengan sel spermatozoa (konsepsi)
yang diikuti dengan perubahan fisiologis dan psikologis.
Pertemuan inti ovum dengan
inti spermatozoa disebut kosepsi atau fertilisasi dan membentuk zigot. Proses
konsepsi dapat berlangsung sebagai berikut :
a. Ovum yang dilepaskan dalam proses ovulasi diliputi korona radiata, yang
mengandung persediaan nutrisi.
b. Pada ovum dijumpai inti dalam bentuk metafase ditengah sitoplasma yang
disebut vitellus.
c. Dalam perjalanan korona radiata makin berkurang pada zona pelusida.
Nutirisi ini akan dialirkan kedalam vitellus, melalui saluran pada zoan
pelusida.
d. Konsepsi terjadi di pars ampularis tuba:
1) Tempat yang paling luas.
2) Dindingnya penuh jonjot, tertutup sel yang mempunyai silisa.
3) Ovum mempunyai waktu terlama di ampula tuba.
e. Ovum siap dibuahi setelah 12 jam dan hidup selama 48 jam.
f. Spermatozoza ditumpahkan, masuk melalui kanalis servikalis dengan kekuatan
sendiri.
g. Dalam kavum uteri terjadi proses kapasitasi, yaitu pelepasan sebagian dari
lipoproteinnya sehingga mampu mengadakan fertilisasi.
h. Spermatozoa melanjutkan perjalanan menuju tuba.
i. Spermatozoa hidup selama tiga hari dalam genetalia interna.
j. Spermatozoa akan mengelilingi ovum yang telah siap dibuahi serta mengikis
korona radiata dan zona pelusida dengan proses hialuronidase.
k. Melalui stomata spermatozoa memasuki ovum.
l. Setelah kepala spermatozoa masuk kedalam ovum, ekornya lepas dan tertinggal
di luar.
m. Kedua inti ovum dan inti
spermatozoa bertemu dengan membentuk zigot.
Selanjutnya dilanjutkan
dengan proses nidasi. Dimana nidasi adalah masuknya sel telur ke dalam
endometrium. Nidasi terjadi ± 6 hari setelah fertilisasi. Terjadi karena
trofoblas mempunyai daya untuk menghancurkan sel-sel endometrium dan digunakan
sebagai bahan makanan oleh sel tellur.
2.6 Pengertian
Persalinan
Persalinan adalah suatu
proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui
vagina ke dunia luar (Sarwono, 1999:180).
Suatu proses pengeluaran
hasil konsepsi (janin dan uteri) yang telah cukup bulan atau dapat di luar
kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain tanpa bantuan (kekuatan
sendiri). (Manuaba, 1998:134).
Suatu proses alamiah
dimana terjadi dilatasi serviks, lahirnya janin dan plasenta dari rahim ibu.
(APN, 2002: -1).
Proses pengeluaran janin
yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu) lahir spontan dengan
presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik
pada ibu maupun pada janin.(Prawiroharjo, 2001 : 180).
Proses membuka dan
menipisnya serviks dan janin ke dalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses
dimana janin dan ketuban di dorong keluar melalui jalan lahir. Jadi persalinan
dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang twrjadi pada
kehamilan cukup bulan 37-40 minggu. Lahir spontan dengan presentasi belakang
kepala yang berlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada
janin.(Sarwono, 1999; 1000)
a. Bentuk Persalinan
1) Menurut Mochtar (1998:91) Persalinan Spontan adalah bila persalinan
seluruhnya berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri.
2) Persalinan Buatan adalah persalinandengan bantuan tenaga dari luar.
3) Persalinan biasa (normal) atau persalinan spontan adalah proses lahinya
bayi dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu
dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.
4) Persalinan luar biasa (abnormal) adalah persalinan pervaginam dengan
bantuan alat-alat atau melalui dinding perut dengan operasi caesarea.
b. Etiologi Menurut Mochtar (1998:92)
Teori-teori yang kompleks dapat
menyebabkan persalinan antara lain :
1) Teori penurunan hormone
1-2 minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan hormone esterogen dan
progesteron. Progesteron bekerja sebagai pengerang otot-otot polos rahim akan
menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar
progesteron turun.
2) Teori plasenta menjadi tua
Yang menyebabkan turunya progestron dan esterogen yang menyebabkan
kekejangan pembuluh darah. Hal ini dapat menimbulakn kontraksi rahim.
3) Teori distensi rahim
Rahim yang besar dengan meregang menyebabkan riskemia otot-otot rahim,
sehingga mengganggu sirkulasi uterus ke plasenta.
4) Teori iritasi mekanik
Tertekannya flexus frankeheuser oeh kepala janin akan menimbulkan kontraksi
rahim.
2.7 Pengertian KB
Keluarga berencana
adalah usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak yang diinginkan. Untuk dapat
mencapai hal tersebut maka dibuatlah beberapa cara atau alternatif untuk
mencegah ataupun menunda kehamilan. Cara-cara tersebut termasuk
kontrasepsi atau pencegahan kehamilan dan perencanaan keluarga. Berdasarkan
penelitian, terdapat 3.6 juta kehamilan tidak direncanakan setiap tahunnya di
Amerika Serikat, separuh dari kehamilan yang tidak direncanakan ini terjadi karena
pasangan tersebut tidak menggunakan alat pencegah kehamilan, dan setengahnya
lagi menggunakan alat kontrasepsi tetapi tidak benar carapenggunaannya.
Metode kontrasepsi bekerja dengan dasar mencegah sperma laki-laki mencapai dan membuahi telur wanita (fertilisasi) atau mencegah telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi (melekat) dan berkembang di dalam rahim. Kontrasepsi dapat reversible (kembali) atau permanen (tetap). Kontrasepsi yang reversible adalah metode kontrasepsi yang dapat dihentikan setiap saat tanpa efek lama di dalam mengembalikan kesuburan atau kemampuan untuk punya anak lagi. Metode kontrasepsi permanen atau yang kita sebut sterilisasi adalah metode kontrasepsi yang tidak dapat mengembalikan kesuburan dikarenakan melibatkan tindakan operasi.
Metode kontrasepsi bekerja dengan dasar mencegah sperma laki-laki mencapai dan membuahi telur wanita (fertilisasi) atau mencegah telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi (melekat) dan berkembang di dalam rahim. Kontrasepsi dapat reversible (kembali) atau permanen (tetap). Kontrasepsi yang reversible adalah metode kontrasepsi yang dapat dihentikan setiap saat tanpa efek lama di dalam mengembalikan kesuburan atau kemampuan untuk punya anak lagi. Metode kontrasepsi permanen atau yang kita sebut sterilisasi adalah metode kontrasepsi yang tidak dapat mengembalikan kesuburan dikarenakan melibatkan tindakan operasi.
Metode kontrasepsi juga
dapat digolongkan berdasarkan cara kerjanya yaitu metode barrier (penghalang),
sebagai contoh, kondom yang menghalangi sperma; metode mekanik seperti IUD;
atau metode hormonal seperti pil. Metode kontrasepsi alami tidak memakai
alat-alat bantu maupun hormonal namun berdasarkan fisiologis seorang wanita
dengan tujuan untuk mencegah fertilisasi (pembuahan).
Faktor yang mempengaruhi
pemilihan kontrasepsi adalah efektivitas, keamanan, frekuensi pemakaian dan
efek samping, serta kemauan dan kemampuan untuk melakukan kontrasepsi secara
teratur dan benar. Selain hal tersebut, pertimbangan kontrasepsi juga
didasarkan atas biaya serta peran dari agama dan kultur budaya mengenai
kontrasepsi tersebut. Faktor lainnya adalah frekuensi bersenggama, kemudahan
untuk kembali hamil lagi, efek samping ke laktasi, dan efek dari kontrasepsi
tersebut di masa depan. Sayangnya, tidak ada metode kontrasepsi, kecuali
abstinensia (tidak berhubungan seksual), yang efektif mencegah kehamilan 100%.
2.8 Pengertian neonatal
a. Menurut Saifudin, (2002) Bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir selama
satu jam pertama kelahiran.
b. Menurut Donna L. Wong, (2003) Bayi baru lahir adalah bayi dari lahir sampai
usia 4 minggu. Biasa lahirnya usia gestasi 38-42 minggu.
c. Menurut Dep. Kes. RI, (2005) bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir
dengan umur kehamilan 37-42 minggu dan berat lahir 2500-4000 gram.
Bayi baru lahir umur 0-4 minggu sesudah lahir. Terjadi
penyesuaian sirkulasi dengan keadaan lingkungan,melai bernafas dan fungsi alat
tubuh lainnya. Berat badan turun sampai 10% pada minggu pertama kehidupan, yang
dicapai lagi pada hari keempat belas. (FKUI, 2005).
Bayi baru lahir (neonatus) adalah bayi usia 0-28 hari,
selama periode ini bayi harus menyesuaikan diri dengan lingkungan ekstra uteri.
Bayi harus berupaya agar fungsi-fungsi tubuhnya menjadi efektif sebagai
individu yang unik. Respirasi, pencernaan dan kebutuhan untuk regulasi harus
bisa dilakukan sendiri (Gorrie et al, 1998)
Pada masa ini, organ bayi mengalami penyesuaian dengan
keadaan di luar kandungan, ini diperlukan untuk kehidupan selanjutnya
(Maryunani & Nurhayati, 2008).
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Kasus Dilema Moral
a. Dilema moral pada kehamilan
Seorang pasien ibu hamil
datang ke BPS untuk memeriksaan kehamilannya. Setelah diperiksa ,
ternyata bidan menemukan bahwa ibu tersebut mempunyai penyakit kelainan
jantung. Bidan mengatakan pada ibu bahwa kehamilan ini beresiko tinggi. Karena
penyakit jantung ibu tersebut dapat menyebabkan kematian saat ibu bersalinan
nanti. Oleh sebab itu, bidan menyarankan kepada ibu untuk menggugurkan
kandungannya ke dokter Obstetri dan Ginekology tapi ibu menolak. Ibu
dan keluarga sangat menginginkan bayi ini karena ini merupakan anak pertama dan
sangat dinanti dalam keluarga. Hal ini menyebabkan bidan mengalami dilema. Jika
tidak digugurkan akan mengancam keselamatan ibu dan bayinya dan apabila
digugurkan akan mengganggu kejiwaan ibunya karena anak tersebut adalah anak
pertama yang sangat diharapkan.
b. Dilema moral pada persalinan
Seorang ibu
primipara datang tiba-tiba ke bidan X dalam keadaan inpartu. Bidan
tersebut langsung melakukan pemeriksaan kepada ibu tersebut, setlah diperiksa
ternyata ditemukan letak bayinya sungsang. Bidan menjelaskan kepada ibu dan
keluarga bahwa keadaan ibu sekarang tidak memungkinkan untuk melahirkan di
bidan tersebut, karena menolong persalinan dengan letak sungsang bukanlah
wewenang bidan dan itu melanggar kode etik. Sehingga bidan menyarankan untuk di
rujuk ke Rumah Sakit. Tapi keluarga tetap memaksa bidan untuk melahirkan di
bidan tersebut. Keluarga tidak mau mengambil resiko jika ibu tidak tertolong
saat diperjalanan rujukan ke Rumah Sakit, dan keluarga percaya bidan dapat menolong
persalinan tersebut. Disini bidan merasa dilema antara harus merujuk pasien
atau tidak merujuk dan menolong persalinan sendiri sehingga melanggar kode
etik.
c. Dilema moral pada neonatus
Ada seorang ibu bernama “S” yang datang ke sebuah BPM. Ibu tersebut berusia
17 tahun dan mempunyai seorang anak berusia 2 minggu. Ibu tidak mau menyusui
anak tersebut karena dia tidak siap untuk mempunyai anak dan dia takut akan
perubahan citra tubuhnya. Karena memang anak tersebut tidak diinginkan atau
hasil kecelakaan. Sedangkan anak tersebut di diagnosa mengalami kelainan pada
sistem kekebalan tubuh sehingga tidak dapat diberikan susu formula, dan
diharuskan memberikan ASI ekslusif hingga sistem kekebalannya normal kembali.
Disini bidan merasa dilema.
d. Dilema moral pada KB
Disebuah desa, seorang klien bernama Ny “F” yang datang ke Bidan bersama
suaminya. Ny “F” adalah seorang ibu rumah tangga berusia 26 tahun, dan
mempunyai seorang anak yang baru berusia 2 tahun. Ny “F” adalah lulusan SMP ,
dan suaminya seorang pekerja serabutan dengan pendapatan yang tak menentu.
Ny “F” berniat untuk
berkonsultasi masalah KB, Suami dan Ibu bersepakat untuk menunda
kehamilan dan meminta pendapat kepada bidan. Bidan tersebut menyarankan ibu
untuk memasang KB IUD, karena menurut pemeriksaan ibu menderita pertumbuhan
abnormal pada payudara, sehingga ibu tidak diperbolehkan menggunakann KB
hormonal. Namun ibu dan suami menentang keputusan bidan , karena faktor ekonomi
dan juga kurangnya KIA pada ibu sehingga ibu dan suami tidak mengerti bahaya
jika ibu menggunakan KB hormonal. Dalam kasus ini bidan mengalami dilema moral
untuk memberikan keputusan dan KIA pada ibu dan suami.
3.2 Penyelesaian Kasus
Dilema Moral
a. Dilema Moral pada kehamilan
1) Memberikan KIE kepada ibu dan keluarga tentang bahaya bila kandungan tetap
dipertahankan..
2) Melibatkan keluarga dalam pengambilan keputusan.
b. Dilema Moral pada Persalinan
Memberikan penjelasan
kepada keluarga pasien jika bidan tidak mempunyai kewenangan dalam menolong
persalinan sungsang. Selain itu juga dijelaskan jika di BPS tersebut tidak
memiliki fasilitas persalinan yang lengkap seperti di Rumah Sakit.. Jadi bidan
tidak bisa menolong dengan maksimal.
c. Dilema Moral pada Neonatal
Solusi untuk masalah yang dihadapi Ny.”Y” yaitu agar bayinya tetep
mendapatkan ASI, maka langkah yang harus dilakukan yang pertama adalah
mencarikan ibu susuan atau mecarikan bank ASI. Langkah kedua untuk ibu, bidan
memberikan KIE tentang pentingnya memberikan ASI untuk pemenuhan gizi bagi
pertumbuhan dan perkembangan bayinya. Selain itu bidan memberikan dukungan dan
dorongan agar ibu siap mental saat menyusui.
d. Dilema Moral pada KB
Solusi untuk masalah yang dihadapi oleh Ny “A” yaitu
pertama dengan memberikan KIE terhadap ibu dan suami tentang bahaya menggunakan
KB secara hormonal terhadap penyakit yang diderita.
Dalam masalah ini pasangan suami istri tersebut tidak setuju menggunakan KB
IUD karena menganggap biaya KB IUD lebih mahal daripada KB hormonal, disini
bidan memberikan pandangan kepada ibu tentang perbandingan biaya menggunakan KB
IUD dan KB hormonal. Pada KB IUD walaupun terkesan mahal namun bisa digunakan
dalam jangka panjang. Sedangkan jika menggunakan KB hormonal walaupun harganya
murah namun ibu harus rutin menggunakan KB hormonal.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa KB non hormonal lebih terjangkau dari KB
hormonal dan juga pada ibu yang menderita pertumbuhan abnormal payudara akan
berdampak buruk apabila menggunakan KB hormonal.
Pada kasus ini peran bidan dalam memberikan KIE sangat penting untuk ibu
saat pengambil keputusan memilih KB terbaik yang sesuai dengan keadaannya saat
ini.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Etika
merupakan bagian dari filosofi yang berhubungan erat dengan nilai manusia dalam
menghargai suatu tindakan, apakah benar atau salah dan apakah penyelesaian baik
atau buruk (Jones,1994). Moral merupakan pengetahuan atau keyakinan tentang
adanya hal yang baik dan buruk serta mempengaruhi sikap seseorang. Kesadaran
tentang adanya baik dan buruk berkembang pada diri seseorang seiring dengan
pengaruh lingkungan, pendidikan, sosial budaya, agama dsb, hal inilah yang
disebut kesadaran moral atau kesadaran etik. Moral juga merupakan keyakinan
individu bahwa sesuatu adalah mutlak baik atau buruk walaupun situasi berada.
Dilema
moral menurut Campbell adalah suatu keadaan dimana dihadapkan pada dua
alternatif pilihan, yang kelihatanya sama atau hampir sama dan membutuhkan
pemecahan masalah harus mengigat akan tanggung jawab profesional sebagai seorang
bidan. Dilema ini sering kita jumpai pada masalah kehamilan, persalinan, KB ,
dan neonatal yang menjadi suatu hal yang membingungkan bagi seorang bidan.
4.2 Saran
a. Seorang
bidan perlu mengetahui tentang dilema moral dalam lingkungan kebidanannya.
b. Bidan
perlu mengetahui bagaimana mengambil keputusan yang sulit berkaitan dengan
etika.
c. Bidan
juga harus mengetahui bahwa dalam layananan kebidanan seringkali muncul masalah
dan dilema di masyarakat berkaitan dengan etik dan moral, serta konflik yang
dihadapi bidan sebagai praktisi kebidanan.
DAFTAR PUSTAKA
Benson, Raphl C.
2009. Obstetri dab Ginekologi. Jakarta : EGC
http://ridwanaz.com/kesehatan/definisi-jenis-dan-contoh-alat-kontrasepsi-serta-keuntungan-kekurangan
http://www.google.com/promosikesehatan
JNPK-KR. 2007. Buku
Asuahan Persalinan Normal (Revisi). Jakarta : TIM
Nani Lia Dewi, Vivian. 2010. Asuhan
Nonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta : Salemba Medika
Varney, 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan edisi 4. Jakarta : EGC
http://alifviarahma.blogspot.co.id/2015/06/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar